Dirgahayu Republik Indonesia ke 73 dalam Pengorbanan Sultan Syarif Kasim Tsani

Tak lama setelah kemerdekaan RI diproklamasikan, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram kepada pemerintah RI yang berisi pernyataan bahwa Kerajaan Siak adalah bagian dari wilayah RI. Kerajaan Siak mencakup pesisir timur Sumatra, Semenanjung Malaka, dan di daratan hingga ke Deli Serdang, Sumatra Utara.

Pada Oktober 1945, Sultan Syarif Kasim II membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) di Siak, yang dipimpin Dr. Tobing. Dia lalu membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Barisan Pemuda Republik. Setelah badan-badan perjuangan itu terbentuk, Sultan Syarif Kasim II mengadakan rapat umum di istana dan bendera Merah Putih dikibarkan pada rapat umum itu. Bersama rakyat Siak, Sultan berikrar untuk sehidup semati mempertahankan kemerdekaan RI

Sementara itu, pada Maret 1946 terjadi revolusi sosial di Sumatera Timur yang didalangi golongan kiri untuk menghancurkan para bangsawan yang dituduh bekerjasama dengan Jepang. Sultan Syarif Kasim II sedang berada di Medan dan menemui Gubernur Sumatera Teungku Muhammad Hasan guna mendapatkan penjelasan status sultan dalam Pemerintah RI.

Dari Medan, Sultan Syarif Kasim II kemudian ke Langkat. Di sana, dia terus aktif menyuplai bahan makanan untuk para laskar dengan cara memberi modal sebuah kedai pangan. Sultan Syarif kemudian hijrah ke Aceh dan menyumbangkan tenaganya untuk membantu pemerintah daerah Aceh.

Melalui siaran radio, Sultan tak henti-henti menyerukan agar rakyat tetap setia pada pemerintah RI dan menolak tawaran untuk membentuk Dewan Siak dukungan Belanda. Pada Oktober 1949, Sultan Syarif bertolak ke Yogyakarta dan menyerahkan 30 persen dari kekayaannya berupa emas kepada Presiden Soekarno untuk mendukung perjuangan pemerintah RI. Setelah pengakuan kedaulatan, ia diminta oleh presiden Soekarno untuk menjadi penasihat presiden.

Sultan Syarif meninggal dunia di Rumbai, Pekanbaru, Riau pada 23 April 1968. Sultan Syarif Kasim II meninggalkan 2 istri tanpa anak, baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Sultan Syarif Kasim II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional disertai anugerah tanda jasa Bintang Mahaputra Adipradana berdasarkan SK Presiden RI No. 109/TK/Tahun 1998, tanggal 6 November 1998. Untuk mengenang jasa-jasanya, Pemerintah Provinsi Riau mengabdikan namanya pada bandara International di Pekanbaru dengan nama Sultan Syarif Kasim II yang semula bernama Bandar