Khazanah Naskah Kuna Keagamaan Islam di Propinsi Riau Deskripsi Telaah Khusus pada Naskah Bertemakan Tauhid

Oleh:

Agus Iswanto
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta
agus.iswanto83@gmail. com

Tulisan ini memaparkan tentang khazanah naskah-naskah keagamaan
Islam di Propinsi Riau, dengan telaah khusus pada naskah-naskah berisi teks-teks di bidang tauhid.

Hal ini penting artinya karena selama ini,naskah-naskah Riau yang lebih dikenal adalah naskah-naskah di Kepulauan Riau,khususnya Pulau Penyengat,padahal naskah-naskah di Riau Daratan agak terabaikan.

Tulisan ini menyajikan juga tempat-tempat atau lokasi-lokasi berpotensi memiliki naskah.

Dalam kesempatan ini dapat disajikan koleksi naskah-naskah dari dua wilayah yakni :

Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar, #(sayang naskah dari siak masih banyak belum dilakukan kajian)meskipun juga dipaparkan secara singkat koleksi naskah-naskah di wilayah lain di propinsi ini. Dari hasil penelusuran naskah keagamaan di Propinsi Riau ini, berhasil di inventarisasikan sejumlah 77 naskah di dua wilayah,yakni di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.Dari 77naskah tersebut, ada 22 teks yang berisi ajaran tauhid.

Tulisan ini menyajikan gambaran tentang khazanah naskah-naskah keagamaan Islam secara umum, dan naskah-naskah tauhid secara khusus, di Propinsi Riau (Riau Daratan), terutama di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.

Data ini adalah hasil penelusuran lapangan dan pustaka.Selanjutnya, tulisan ini memberikan satu bahasan khusus sebagai contoh atas naskah-naskah bidang Tauhid yang penulis temukan.

Kekhususan pada bidang tauhid ini agar lebih fokus saja dan juga ketika penulis bertugas melakukan penelitian, tema inilah yang menjadi fokuspenelusuran.Tulisan ini juga memaparkan potensi naskah-naskah
keagamaan,serta sejarah koleksi dan afiliasi naskah-naskah tauhid.
Sebagaimana diketahui, daerah Riau (Riau Daratan dan Riau Kepulauan), layaknya juga daerah-daerah lainnya yang terbentang di wilayah Nusantara–Indonesia ini, memiliki bukti-buktipeninggalan masa lalu, yaitu berupa naskah yang saat ini masih banyak belum terungkap, sehingga informasi-informasi yang terkandung di dalamnya hilang bersama datangnya kebudayaan-kebudayaan baru yang sama sekali belum tentu berakar dengan budaya induk setempat. Kebudayaan-kebudayaan yang pernah ada dan berkembang di daerah Melayu Riau selanjutnya membawa Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu, bahkan lebih jauh bukan hanya sebagai pusat kebudayaan tetapi juga merupakan pusat kegiatan politik raja-raja Melayu dewasa itu.Selain itu, naskah tersebut sesungguhnya memainkan peran penting dalam merekam identitas, model dan dinamika Islam dalam sejarah Islam Indonesia,termasuk yang ada di daerah Riau.

Naskah-naskah yang berada di daerah Riau, juga sebagaimana naskah-naskah di wilayah Melayu Indonesia lainnya, naskah bertemakan keagamaan (Islam) merupakan salah satu kategori naskah yang jumlahnya relatif banyak. Selain itu, melalui naskah-naskah kuna itu, cendekiawan-cendekiawan Riau, dengan Islam sebagai sumber idenya, pada zaman dahulu mewariskan karya-karyanya kepada generasi selanjutnya.Hal ini tidak terlalu mengherankan, mengingat kenyataan bahwa ketika Islam, dengan
segala kekayaan budayanya, masuk di wilayah Nusantara pada umumnya, dan di wilayah Melayu Indonesia pada khususnya,budaya tulis-menulis sudah relatif mapan.Hanya porsi di masing-masing daerah yang membedakannya, sesuai dengan konteks wilayah tersebut.

Di daerah Riau misalnya,khususnya di Riau Daratan ini banyak naskah-naskah yang memang diproduksi oleh
kalangan istana, sehingga lebih banyak pada naskah-naskah yang berisi teks-teks terkait politik kerajaan, baik yang berbentuk hikayat maupun undang-undang,dan berupa arsip-arsip dokumen surat-surat istana bahkan untuk kasus istana Siak,yang terakhirlah yang paling banyak ditemukan,meskipun saja,tetap juga terdapat naskah-naskah yang berisi teks-teks keagamaan.Hal ini tidak mengherankan oleh karena pola aktivitas budaya orang Melayu Riau didasarkan pada agama Islam, yang merupakan inti budaya mereka.

Naskah-naskah keagamaan Islam itu merentang dari bidang fikih, tasawuf, hingga tauhid.

Hingga sampai penelusuransaya,belum ada sebuah data (katalog) yang memberikan informasi secara spesifik mengenai naskah-naskah yang terbagi dalam bidang-bidang keilmuan Islam tersebut.Padahal ini penting sehingga lebih dapat dimanfaatkan bagi para peneliti, ilmuwan,maupun peminat Islamic studies yang berbasiskan sumber-sumber lokal,khususnya dalam tiga bidang kajian, yakni fikih, tasawuf, dan tauhid.Sesungguhnya, secara umum, naskah-naskah Melayu sudah banyak yang membuat daftar dan deskripsinya.

Uraian ini dapat dilihat dalam tulisan Pramono dengan judul “Skriptorium dan Naskah-Naskah Melayu di Sumatera Barat,Riau dan Kepulauan Riau.
Bahkan untuk koleksi naskah-naskah Melayu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta, yang dulu di Museum Jakarta telah dibuatkan katalognya oleh Sutaarga dkk.

Adapun untuk naskah-naskah Melayu Riau,Chambert-Loir dan Fathurrahman misalnya,telah memberikan petunjuk mengenai katalog naskah-naskah Melayu di Riau Kepulauan,terutama di Pulau Penyengat.

Hamidy telah memerikan 21 naskah tulisan tangan di Riau,terutama di Pulau Penyengat.10 Mu’jizah (1999)melakukan penelitian,yang selanjutnya diterbitkan dengan judul:Penelusuran Penyalinan Naskah-naskah Riau Abad XIX Sebuah Kajian Kodikologi.

Ia mencatat 44 naskah Melayu Riau di Pulau Penyengat,tepatnya di Yayasan Indra Sakti dan 13 naskah di
Perpustakaan Nasional Jakarta. Memang,penelitian ini tidak mengkaji seluruh koleksi naskah di Pulau Penyengat.

Sangat dimungkinkan, masih tersisa puluhan naskah di pulau tersebut yang belum diteliti pada waktu itu di Pulau Penyengat.Selain itu Mu’jizah juga pernah mencatat sekitar 45-an naskah dari daerah Riau di Perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan KITLV.Tampak, bahwa naskah-naskah Melayu Riau, termasuk naskah-naskah keagamaannya, yang selama ini lebih terungkap dan cukup mendapat perhatian dari para peneliti, adalah naskah-naskah yang sekarang masuk dalam wilayah Propinsi Kepulauan Riau, terutama yang berada di wilayah Lingga dan Pulau Penyengat.

Sedangkan naskah-naskah keagamaan Melayu,yang berada di wilayah Propinsi Riau (Riau Daratan) kurang muncul dan agak terabaikan Memang ada beberapa penelitian yang mencoba mendata dan mengkaji naskah-naskah yang terdapat di Riau Daratan,seperti yang pernah dilakukan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan di tahun 2004 dan 2008.Pada tahun 2004 di Propinsi Riau ditemukan 19 naskah dan sudah dikaji sebanyak 3 naskah.Adapun pada tahun 2008,dilakukan digitalisasi naskah-naskah keagamaan yang ada di Propinsi Riau sejumlah 7 naskah.

Museum Sang Nila Utama Pekanbaru sendiri pernah melakukan semacam pendataan naskah-naskah koleksi ,yang ternyata hampir keseluruhan adalah berisi teks-teks keagamaan,namun belum dibuat dalam sebuah katalog yang informatif dan baik.

Sementara itu,kemungkinan naskah-naskah di Propinsi Riau tentu saja bertambah,yang memerlukan pembaruan data bekelanjutan,yang informasinya diperlukan oleh masyarakat,baik masyarakat akademik maupun masyarakat luas.Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta sejak tahun 2011 melakukan inventarisasi dan katalogisasi naskah-naskah keagamaan Islam yang dibagi dalam bidang-bidang keilmuan Islam,di tahun 2011 dilakukan inventarisasi dan katalogisasi naskah-naskah fikih,tahun 2012 dilakukan inventarisasi dan katalogisasi naskah-naskah tasawuf,dan tahun 2013 fokus pada naskah-naskah tauhid.Khusus untuk Propinsi Riau, di tahun-tahun sebelumnya (2011 dan 2012) menjadi daerah yang belum ditelusuri, sementara di tahun ini 2013 langsung difokuskan pada naskah-naskah tauhid,maka tentu saja cakupan penelusuran tidak membatasi langsung pada naskah-naskah tauhid, tetapi mencoba menginventarisasi semua naskah-naskah keagamaan Islam,sehingga nanti akan diketahui komposisi naskah-naskahnya.
Mengenai pentingnya naskah sebagai sebuah benda cagar budaya yang harus dilindungi dan bermanfaat bagi evaluasi dan pengembangan kebudayaan sudah barang tentu sudah tidak perlu lagi diberikan penjelasan secara rinci.Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah upaya penelitian/inventarisasi dan katalogisasi naskah-naskah keagamaan (tauhid) ini adalah sebuah action (aksi) dari sebuah kebijakan (policy).Setidaknya ada tiga kebijakan yang dapat dirujuk dari kegiatan katalogisasi ini;

  • UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
  • UU No 43 Tahun2007 tentang Perpustakaan dan Rencana Strategis KementerianAgama Tahun 2010 – 2014.

Setidaknya ada dua metode dalam inventarisasi atau pengumpulan naskah ini,sebagaimana yang dikemukakan oleh Djamaris,yakni metode studi pustaka dan metode studi lapangan

Kedua metode ini digunakan.Untuk metode studi pustaka dilakukan dengan penelusuran katalog-katalog museum atau perpustakaan yang mengoleksi naskah-naskah keagamaan Islam.Naskah-naskah tersebut kemudian dipilah/identifikasi sehingga ditemukan naskah-naskah yang berisi teks tauhid.

Kemudian naskah-naskah tersebut dicatat,dan sebisa mungkin diupayakan mendapat sampel foto dari naskah tersebut.Target pencarian terhadap museum dan perpustakaan ini tidak juga kemudian menutup kemungkinan untuk menelusuri naskah-naskah yang masih menjadi koleksi pribadi (private collections), terlebih jika di museum atau perpustakaan suatu daerah tertentu tidak ditemukan naskah,maka target pencarian dialihkan ke koleksi pribadi Inilah yang disebut dengan “metode studi lapangan”.Untuk melakukan inventarisasi dan pemerian naskah ini,dapatdigunakan ilmu bantu filologi,yakni kodikologi.Ilmu ini berupaya mengungkap seluk-beluk atau semua aspek fisik naskah (codex),yang terdiri dari bahan,umur,tempat penulisan,perkiraan penulis naskah dan lain sebagainya Secara induktif gambaran kodikologis mengenai naskah-naskah akan dapat memberikan lukisan mengenai tradisi tulis-menulis yang pernah ada di masa lampau,skiptorium-skriptorium yang dulu berkembang serta struktur-struktur yang mendorong atau menghancurkan suatu budaya tulis.Istilah kodikologi berasal dari kata codex dan logos,yang artinya ilmu tentang kodeks,yakni naskah.

Baried dkk.mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu kodeks.Kodeks adalah bahan tulisan tangan.Singkatnya,kodikologi pada akhirnya membantu dalam pendeskripsian naskah (Déroche, 2005: 15 – 16).Kodikologi juga,menurut Gacek adalah “the scientific description of the books including all the materials and processes involded in their making.”Pendeskripsian naskah ini berguna untuk membantu para peneliti mengetahui ketersediaan naskah itu,sehingga memudahkan penelitian.Maka selain mencari asal-usul dan kejelasan mengenai kapan,bagaimana,dan dari mana naskah tersebut dihasilkan,analisis kodikologi juga berkembang pada ada atau tidaknya judul naskah,atau di akhir teks,kalau tidak ada judul naskah maka kita wajib memberikan judul sendiri sesuai dengan isi kandungan naskah tersebut.Telaah kodikologi juga mencakup sejarah koleksi naskah.Penelusuran Potensi Naskah Sebagaimana disebut di atas, penelitian ini tujuan akhirnya adalah mengupayakan inventarisasi dan membuat katalog naskah-naskah yang bermuatan tauhid, namun oleh karena kekhasan naskah-naskah keagamaan Islam Nusantara,yang seringkali tidak hanya berisi satu teks dalam satu bidang ilmu,tetapi berbagai ilmu,maka peneliti dituntut untuk cermat mengidentifikasi teks yang berada dalam satu naskah.Jika penentuan naskah berdasarkan jumlah teks terbanyak juga tidak mungkin dilakukan, maka yang dilakukan adalah mendata naskah tersebut dengan tetap mendeskripsikan teks-teks naskah yang berisi ilmu tauhid.

Selain itu,sebagaimana juga telah disinggung,naskah-naskah keagamaan Islam di wilayah Riau Daratan informasinya belum cukup digali,karena itu dalam penelitian ini tetap mendata naskah sebanyak-banyaknya dan sedapatnya sebagai basis data,tanpa harus ketat berpegangan pada kategori naskah tauhid.Setelah didata,maka langkah selanjutnya adalah membuat deskripsinya.Sebagai gambaran,di bawah ini disampaikan peta potensi pernaskahan di wilayah Riau Darat/Propinsi Riau.

Penting dikemukakan di sini,peta pernaskahan ini mengikuti hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Tim Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengembangan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (selanjutnya UIN Riau),yang terdiri dari Sukma Erni,Sofia Hardani,Ellya Roza,Mahyudin Syukri,Jumni Nelli,Yennyta Trisia.

1. Siak
Siak adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Riau/RiauDaratan.Jarak lurus dari Kota Pekanbaru ke Kabupaten Siak sekitar 74 KM.Hasil penelitian Tim UIN Riau menyebutkan,bahwa dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap beberapa tokoh masyarakat Siak, dapat disimpulkan ternyata naskah-naskah di Siak hanya ada dilingkungan istana kerajaan saja.Naskah tersebut telah dikumpulkan oleh pihak terkait,yaitu Pemerintah Daerah Kabupetan Siak, dan disimpan dalam istana.Sehingga, ketika orang yang akan meneliti naskah-naskah tersebut,maka sebaiknya langsung berhubungan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Siak.
Menurut Ellya Roza,peneliti dari Tim UIN Riau yang meneliti naskah-naskah di Siak,naskah-naskah di Siak terpusat di Istana As-Sirayah al-Hasyimiyah Siak Sri Indrapura (selanjutnya Istana Siak), meskipun tentu saja ada naskah-naskah yang masih tersimpan di masyarakat.

Di Istana Siak,naskah di lemari besar yang di dalamnya disusun kotak-kotak dokumen,yang dikelompokkan berdasarkan bidang-bidangnya. Menurut tim peneliti UIN Riau, yang melakukan penyusunan kotak-kotak
dokumen naskah tersebut adalah pihak Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah.

Berdasarkan “Daftar Pertelaan Arsip Kerajaan Siak,” yang disusun oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Riau pada tahun 2003, sebagaimana dikutip oleh Roza, disebutkan terdapat 290 naskah yang disimpan di istana.Naskah-naskah tersebut dapat dikelompokkan dalam berbagai bidang sebagai berikut.

  1. Bidang pemerintahan,terdiri atas 13 naskah
  2. Bidang peraturan,terdiri atas 17 naskah
  3. Bidang kontrak,terdiri atas 22 naskah
  4. Bidang protokoler,terdiri atas 32 naskah
  5. Bidang laporan,terdiri atas 36 naskah
  6. Bidang peradilan,terdiri atas 109 nakah
  7. Bidang pajak,terdiri atas 22 naskah
  8. Bidang sosial,terdiri atas 5 naskah
  9. Bidang pendidikan,terdiri atas 8 naskah
  10. Bidang agama,terdiri atas 11 naskah
  11. Bidang penyakit terdiri atas 3 naskah
  12. Bidang pertanian,terdiri atas 5 naskah
  13. Bidang agenda,terdiri atas 4 naskah
  14. 1 naskah yang sudah rusak dan terpotong-potong kertasnya.

Ketika saya mengunjungi Istana Siak,menurut petugas jaga istana,naskah-naskah yang kebanyakan berupa arsip-arsip dokumen istana sudah dialihkan semua ke Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak.Selanjutnya, informasi ini penulis konfirmasi dengan melakukan wawancara kepada Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaetan Siak,Herayuliati, yang menyatakan bahwa memang benar pernah dilakukan konservasi beberapa arsip istana sejak tahun 1900 hingga 1940,yang berjumlah 289 arsip, yang terdiri dari berbagai bidang, termasuk di dalamnya bidang agama yang berjumlah 11 arsip, namun hal itu hasilnya sudah dikembalikan ke pihak istana.Untuk tahun 2013 ini sedang dilakukan juga konservasi terhadap arsip-arsip istana yang jumlahnya ada sekitar 6700 arsip dokumen.Saya tidak mendapatkan kepastian akan keberadaan naskah-naskah yang berupa kitab atau karya-karya tulis keagamaan di istana, meskipun pihak Perpustakaan dan Arsip Daerah menyatakan sangat dimungkinkan keberadaannya.

2. Pelalawan
Kabupaten Pelalawan adalah nama bagi sebuah wilayah yang dulu merupakan wilayah Kerajaan Pelalawan,berdiri pada tahun 1725 M.Adapun Kabupaten Pelalawan sendiri terbentuk setelah reformasi bergulir,yakni pada tahun 1999.Jarak lurus dari Kota Pekanbaru ke Pangkalan Kerinci (Ibu Kota Kabupaten Pelalawan)sekitar 33,5 KM.Bedasarkan survey yang telah dilakukan oleh tim peneliti peta naskah klasik UIN Riau, naskah-naskah klasik sebenarnya memang banyak,namun tempat atau lokasi penyimpanan naskah tidak dapat diketahui secara pasti.
Hasil wawancara tim UIN Riau dengan Tenas Effendi (tokoh budaya Melayu Pelalawan dan penulis buku Bojang Tan Domang)menyimpulkan bahwa masyarakat Pelalawan ada yang memiliki naskah secara pribadi, ini karena dulunya naskah selalu disalin oleh orang yang pandai menulis.
Tim UIN Riau juga menemukan naskah yang selalu dibaca oleh masyarakat desa di wilayah Pelalawan,yakni di Sorek Kerinci.Namun,naskah yang dijumpai sudah tidak lengkap sehingga tidak dapat diketahui isi teksnya dan tulisan yang sulit dibaca.Ada juga naskah yang berupa catatan-catatan yang ditulis dengan huruf Jawi(orang-orang Riau sering menyebutnya dengan Arab Melayu) dan latin,yang diperkirakan ditulis pada tahun 1930 – 1940an.

Naskah ini diperkirakan adalah catatan seorang santri di salah satu pesantren,yang isinya berupa berbagai macam ilmu pengetahuan Islam,seperti tasawuf,fikih,dan bahasa Arab.Ada juga naskah yang berupa sejarah,atau lebih tepatnya legenda (tambo)masyarakat dan peradatan di lingkungan masyarakat Pelalawan.

3. Kampar
Kabupaten Kampar adalah wilayah kabupaten yang paling terdekat dengan Kota Pekanbaru,meskipun jarak lurus dari Kota Pekanbaru sekitar 50 KM.Wilayah ini dikenal dengan “serambi Makkah”-nya Riau,karena banyak tokoh-tokoh agama atau ulama Riau yang lahir dari Kampar.Maka, tidak heran pula jika banyak ditemukan naskah-naskah keagamaan di wilayah ini. Naskah-naskah di wilayah ini pernah dipetakan oleh Mahyudin Syukri yang merupakan bagian dari Tim UIN Riau.Penulis sendiri banyak mendapatkan informasi darinya.
Lokasi-lokasi yang dikunjungi oleh penulis dalam penelusuran naskah ini adalah Desa Rumbio Kecamatan Kampar,Desa Ranah Kecamatan Kampar Timur,dan Desa Naga Beralih Kecamatan Kampar Utara.Untuk Desa Rumbio pernah ditelusuri oleh Syukri.Jika ditotal,terdapat 12 naskah yang ditemukan di desa-desa yang
saya kunjungi.Semuanya adalah naskah-naskah keagamaan,baik tauhid,fikih,hadits dan balaghah.

4. Kota Pekanbaru
Kota ini adalah Ibu Kota Propinsi Riau.Tim UIN Riau pernah mendata naskah-naskah yang berada di Museum Sang Nila Utama Pekanbaru.Pada tahun 2007,2010 dan 2011.

Museum Sang Nila Utama pernah juga melakukan semacam pendataan terhadap koleksi filologika.Namun sayangnya,baik hasil pendataan Tim UIN Riau maupun Tim Museum sendiri masih mencampurkan antara naskah dalam artian tulisan tangan (manuskrip) dengan cetakan yang sudah diterbitkan.Padahal jika diidentifikasikan dalam kriteria tulisan tangan,hanya berjumlah 45 naskah,yang terdiri dari berbagai macam bidang teks-teks keislaman,mulai dari tauhid,fikih,tafsir,nahwu dan saraf maupun mushaf al-Qur’an.Selain itu juga ada naskah yang berupa daun lontar dengan aksara Pallawa yang kondisinya sudah rusak. Dari 45 naskah ini,dapat diklasifikasikan fikih berjumlah 12 naskah, mushaf al-Qur’an berjumlah 11 naskah, tafsir al-Qur’an berjumlah 6 naskah, tasawuf
berjumlah 3 naskah, dan ilmu bahasa Arab berjumlah 3 naskah,serta 10 naskah tauhid. Berdasarkan sejarah naskahnya yang terdapat dalam hasil deskripsi Tim Museum Sang Nila Utama,kebanyakan naskah-naskah koleksi Museum Sang Nila Utama berasal dari wilayah Kampar. Hal ini semakin memperkuat asumsi bahwa Kampar adalah “serambi Makkah” bagi Riau. Klasifikasi yang penulis buat di bawah ini adalah berdasarkan foto naskah dan data yang diberikan oleh petugas Museum, Nurhamidawati, yang sayangnya penulis belum diizinkan untuk melihat naskah-naskah yang tersimpan untuk dilakukan pembacaan ulang terhadap isi teks dalam naskah-naskah tersebut, sehingga sangat dimungkinkan masih terdapat ketidaktepatan dan kesalahan dalam klasifikasi ini.

Penulis juga menelusuri naskah-naskah keagamaan yang ada pada masyarakat di kota Pekanbaru,dan menemukan 2 naskah.Satu naskah terdiri dari 2 teks tauhid. Naskah ini adalah koleksi Dadang Irham. Jl. Senapelan Gang Pinggir No. 2 Pekanbaru Riau.Ia adalah seorang Penjaga Makam Marhum Pekan Masjid Raya Pekanbaru.Kemudian, berdasarkan informasi Mahyudin Syukri, saya melihat satu koleksi naskah yang berupa tafsir al-Qur’an di rumah Bapak H. Damsuar di Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tanayan Raya, Kota Pekanbaru. Ia adalah seorang pegawai negeri guru.Berdasarkan informasinya dan hasil penelitian Syukri,asal naskah ini adalah Dusun/Kampung Balai Jering Desa Sawah, Kecamatan Kampar Utara, Kabupaten Kampar.Naskah ini berisi teks Tafsir Jalalayn karya Jalal al-Din al-Suyuthi dan Jalal al-Din al-Mahalli.Deskripsi naskah ini secara kodikologis sudah dilakukan oleh Mahyudin Syukri.

Masih di Pekanbaru,ada beberapa koleksi naskah di rumah Ellya Roza, seorang dosen Filologi di Universitas Lancang Kuning dan dosen pendidikan bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah UIN Riau.Ia tinggal di Jl. Merpati Sakti Perumahan Cendrawasih Blok F,No.11 Panam Pekanbaru. Di rumahnya terdapat sekitar 12 naskah keagamaan Islam.Naskah-naskah tersebut bukan miliknya,tetapi milik masyarakat dari berbagai daerah di Propinsi Riau yang menitipkan kepadanya. Dari 12 naskah itu, hanya 2 naskah yang berisi teks tauhid.

Di Panam Pekanbaru juga,terdapat 5 naskah koleksi Mahyudin Syukri(Perumahan Graha Mustamindo Permai I Blok F2,Jl.Raya Bangkinang-Pekanbaru KM. 16),yang juga merupakan Dosen di Fakultas Tarbiyah UIN Riau.Satu tentang tasawuf secara umum,dua tentang tarikat Naqsyabandiyah,satu berupa kamus Arab-Melayu,satu berisi teks khutbah.Selain empat wilayah di atas, sebetulnya juga terdapat beberapa wilayah yang juga mempunyai potensi adanya naskah,seperti di Kabupaten Indragiri Hilir,di mana terdapat makam Syaikh Abdurrahman Siddiq al-Banjari yang pernah menjadi Mufti di Istana Indragiri Hilir.Namun dari hasil telaah atas pendataan yang pernah dilakukan oleh Tim UIN Riau,dan hasil wawancara dengan Arrafie Abduh pada tanggal 30 April 2013 yang pernah meneliti tentang pemikiran tasawuf Syaikh Abdurrahman Siddiq al-Banjari,yang memberikan informasi bahwa sangat sulit sekali menemukan karya-karya Abdurrahman Siddiq yang masih berupa tulisan tangan.Jadi, jika ditotal dari hasil penelusuran naskah,penulis menemukan 71 naskah di dua wilayah, yakni di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.Di Kota Pekanbaru naskah-naskah berada di 5 lokasi,yakni Museum Sang Nila Utama,rumah Dadang Irham,rumah Damsuar,rumah Mahyudin Syukri dan rumah Ellya Roza.Adapun di Kabupaten Kampar terdapat di 3 lokasi.Jadi seluruhnyaada 8 lokasi.

Khazanah Naskah-Naskah Teks Tauhid Ada 22 teks yang berisi ajaran tauhid dalam 71 naskah tersebut.Seperti yang sudah diungkapkan di atas,bahwa naskah-naskah penulis temukan di dua wilayah Kota/Kabupaten,yakniKota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.Naskah-naskah tauhid di Kota Pekanbaru ditemukan di tiga lokasi,yakni Museum Sang Nila Utama, di rumah penduduk di Kecamatan Senapelan dan di daerah Panam Pekanbaru.Di Museum Sang Nila Utama, ada 10 naskah tauhid.Di rumah penduduk,yakni rumah Bapak Dadang Irham(penjaga makam Marhum Pakan di Masjid Raya Pekanbaru Pasar Bawah),ada 2 naskah.Di rumah Ellya Roza di Panam ada 2 naskah.Jadi di Kota Pekanbaru ada 14 naskah tauhid.

Penting dicatat, bahwa untuk koleksi Dadang Irham adalah penulis yang temukan sendiri. Ini berawal ketika penulis mengunjungi Masjid Raya Pekanbaru, yang di sebelah kiri masjid ada makam Marhum Pakan, seorang tokoh yang membuka Pekanbaru (Pekan: Pasar. Baharu: Baru) menjadi sebuah wilayah seperti sekarang ini. Saat berziarah, penulis bertemu dengan salah seorang penjaga makam tersebut, yang tidak lain adalah Dadang Irham. Ia menyebut-kan mempunyai beberapa kitab dan lembaran-lembaran tulisan tangan berbahasa Arab dan Melayu (orang Riau sering menyebutnya Arab Melayu). Suatu ketika penulis mengunjungi rumahnya untuk “membongkar” koleksi kitabnya,hampir kesemuanya adalah kitab cetakan, dan beberapa lembaran catatan-catatan tulisan tangan yang kiranya berisi bahan-bahan khutbah sang penulisnya. Tapi yang penting adalah, di antara tumpukan-tumpukan kitab-kitab cetakan itu, terselip dua bundel naskah yang ditulis tangan yang masih jelas dibaca, yang ternyata berisi teks tauhid. Satu naskah bahkan berisi dua teks tauhid. Jika memperhatikan sejarah koleksinya, menurut Dadang Irham, kitab-kitab tersebut adalah koleksi Imam Haji Muhammad Tahir, seorang imam di distrik Pekanbaru pada masa Kolonial dan perjuangan kemerdekaan, maka dimungkinkan naskah disalin/ditulis olehnya.Namun kemungkinan mulai ditulis pada sekitar tahun 1930-an hingga 1940-an. Dalam naskah, juga dalam kitab-kitab cetakan lainnya, disebutkan bahwa naskah tersebut adalah milik Imam Haji Muhammad Tahir.bahkan ada 2 yang berasal dari Batu Besurat Trengganu Malaysia. Namun, ada 4 yang tidak diketahui asal naskahnya.
Semua naskah didapat melalui ganti rugi, atau memberikan semacam “mahar” kepada pemilik naskah yang menyerahkan naskah tersebut.
Untuk naskah-naskah yang berada di rumah Ellya Roza, 1 naskah berasal dari Kabupaten Meranti, dan 1 naskah berasal dari kampar. Untuk naskah yang berasal dari Kabupaten Meranti, Roza menyebutkan bahwa naskah itu berasal dari mahasiswanya, yang orang tuanya dahulu merupakan warga transmigran dari Pulau jawa, sehingga naskah ini terdapat terjemahan antarbaris dalam bahasa Jawa dengan aksara pegon.Selanjutnya, di Kabupaten Kampar, sebagaimana telah disebutkan di atas, lokasi yang menjadi sasaran penelusuran naskah adalah Desa Rumbio Kecamatan Kampar, Desa Ranah Kecamatan kampar Timur, dan Desa Naga Beralih Kecamatan Kampar Utara.Di Desa Rumbio, naskah terdapat di rumah Ibu Diwunah dan Bapak Famer Efendi, yang terdapat masing-masing satu naskah,sehingga semuanya di desa ini ditemukan dua naskah. Satu naskah dimiliki oleh Ibu Diwunah, dan satu naskah dimiliki oleh Bapak Famer Efendi. Naskah yang dimiliki oleh Ibu Diwunah masih digunakan atau dibacakan dalam acara-acara pengajian di kampung-kampung.Sedangkan naskah yang dimiliki oleh Bapak Famer Efendi adalah naskah yang ditulis sendiri olehnya. Perlu diketahui, Famer Efendi adalah salah satu orang yang masih menjaga dan melanjutkan tradisi menulis. Memang, alas naskah yang digunakan dapat dikatakan sudah kertas modern, tetapi jika dilihat dari teks dan bahasa yang digunakan, maka dapat dikatakan sebagai teks dan bahasa lama, yang biasa digunakan oleh teks-teks dalam naskah-naskah lama.
Adapun di Desa Ranah Kecamatan Kampar Timur, naskah ditemukan di rumah Ibu Umi Kulsum. Ia adalah adik sepupu dari pemilik sekaligus salah satu penulis naskah, yakni Sirajuddin Abbas. Semula memang naskah yang ada di rumah Ibu Umi Kulsum adalah koleksi Sirajuddin Abbas, hanya setelah mening-galnya, koleksi naskah ini dipindahkan ke rumah Ibu Umi Kulsum.

Sirajuddin Abbas ini adalah paman dari tim penelitian UIN Riau,yakni Mahyudin Syukri dan Damsuar. Sirajuddin Abbas sendiri dikenal sebagai seorang tokoh agama/ulama dan seorang guru agama di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Ranah Kampar. Menurut keluarganya, ia juga pernah menjadi imam besar di Batam meski pun tidak diketahui kapan ia menjadi imam di sana. Di rumah Ibu Umi Kulsum ini ditemukan 2 naskah yang berisi teks tauhid.Satu naskah yang semua merupakan teks tauhid, dan satu bandel naskah terdiri dari tiga teks tauhid. Menurut cerita pemiliknya,Ibu Umi Kulsum, kedua naskah terakhir adalah milik Sirajuddin Abbas(bedakan dengan Sirajuddin Abbas pertama di atas),seorang ulama dari Payakumbuh Minangkabau yang berteman dengan ayahnya Sirajuddin Abbas pertama. Ia melarikan diri dari Payakumbuh Minangkabau ke Kampar, meskipun akhirnya tetap wafat ditembak oleh serdadu Belanda.Sebelum ia wafat, sejumlah koleksi naskah dititipkan kepada kakek Sirajuddin Abbas pertama,yang kemudian turun temurun diwariskan hingga akhirnya tersimpan di rumah Ibu Umi Kulsum.
Lokasi terakhir di Kampar adalah di Desa Naga Beralih, Kecamatan Kampar Utara, tepatnya di rumah Ibu Mardiah. Ia adalah istri penulis naskah, H. Harmaini, yang juga masih kerabat Mahyudin Syukri.Meskipun alas naskahnya sudah menggunakan kertas modern,yakni folio bergaris, tetapi teksnya dikategorikan teks kuno, sehingga transmisi tradisi teks masih terus berlanjut.
Secara umum, naskah-naskah tauhid yang ditemukan membahas soal-soal sifat-sifat Allah dan Rasulnya, seperti doktrin-doktrin yang sudah terkenal di Nusantara, seperti sifat dua puluh.Ada juga pembahasan tafsir atas kalimat La ilaha illa Allah.Ada juga naskah yang cukup populer yang dikarang oleh Abu Layth Muhammad ibn Abi Nasr ibn Ibrahim al-Samarqandi (983-1002/3M).Jika ditinjau dari sisi mazhab teologinya,semua teks mempunyai afiliasi terhadap doktrin-doktrin Asya’riyah.Adapun bahasa yang digunakan,terdapat beberapa bahasa yang digunakan,yakni Arab-Jawa-Melayu(1 teks),Arab-Melayu(12 teks),Arab-Jawa(2 teks) Melayu(6 teks),dan Arab (1 teks )

Potensi pernaskahan,termasuk di dalamnya naskah-naskah keagamaan dan naskah-naskah tauhid di Propinsi Riau masih banyak, meskipun pengungkapannya masih kurang dilakukan. Dari hasil penelusuran naskah keagamaan di Propinsi Riau ini, berhasil diinventarisasikan sejumlah 77 naskah di dua wilayah, yakni di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.Di Kota Pekanbaru naskah-naskah berada di 5 lokasi,yakni Museum Sang Nila Utama,rumah Dadang Irham,rumah Damsuar,rumah Mahyudin Syukri dan rumah Ellya Roza.Adapun di Kabupaten Kampar terdapat di 3 lokasi.Jadi seluruhnya ada 8 lokasi.Dari 77 naskah tersebut,ada 22 teks yang berisi ajaran tauhid.
Mempertimbangkan visi Propinsi Riau Tahun 2020,yakni“terwujudnya propinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis,sejahtera lahir dan batin di Asia Tenggara tahun 2020,” maka eksistensi naskah (manuskrip) keagamaan menjadi penting artinya bagi konstruksi kebudayaan Melayu yang akan dikembangkan.Oleh karena itu, kembali mengutip argumen Alex Sudewa (1984),dalam artikelnya di majalah Basis,yang berjudul “Filologi dalam Era Pembangunan,”bahwa seorang filolog (lebih luas para pengkaji naskah)bisa secara langsung memberi umpan kepada ahli ilmu sosial dalam mencari hakikat budaya Indonesia(Melayu Riau di dalamnya).Menurut Sudewa,seorang filolog atau pengkaji naskah layaknya pemberi/termasukpemain umpan dalam permainansepak bola yang memberikan umpan kepada teman mainnya.Kerja para filolog dalam era pembangunan adalah umpan terobosan yang dikirimkan kepada pencetak gol,yakni para peneliti ilmu sosial.Oleh karena itu,program sosialisasi,inventarisasi,digitasi maupun pengkajian terhadap naskah-naskah Melayu(termasuk naskah-naskah keaga-maannya)perlu terus dilakukan dan ditingkatkan dengan didukung instansi terkait di tingkat lokal,seperti Badan Litbang Pemerintah Propinsi Riau,Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,Universitas Riau,dan Universitas Lancang Kuning,serta instansi di tingkat nasional,seperti Perpustakaan Nasional,Arsip Nasional,Badan Litbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,dan Badan Litbang Kementerian Agama-agama,melaui Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagaman bersama Balai Litbang Agama Jakarta,serta didukung dengan instansi pendidikan tinggi,seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atau Universitas Indonesia.