Laporan Tiga Penduduk Jambi tentang Ancaman dari sejumlah Kapal Perang Johor di Sungai Batanghari, 11 September 1714

Barbara Watson Andaya, “Laporan Tiga Penduduk Jambi tentang Ancaman dari sejumlah Kapal Perang Johor di Sungai Batanghari, 11 September 1714”. Dalam: Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari
arsip VOC di Jakarta, dokumen 10. Jakarta:
Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013.
OLEH BARBARA WATSON ANDAYA

Layaknya kerajaan-kerajaan Melayu lain di sepanjang Selat Melaka, seperti Indragiri, Palembang dan Johor, maka Jambi juga membawahi sejumlah kelompok Orang Laut yang bermata pencaharian
sebagai nelayan dan pengumpul hasil laut. Permukiman utama Orang Laut di Jambi terletak di Simpang, yaitu di muara Sungai Nior, sebuah anak
sungai dari Sungai Batang Hari yang memuntahkan airnya ke Selat Melaka. Dari pangkalan inilah Orang Laut menyebarluaskan berbagai berita tentang kegiatan maritim, membimbing kapal-kapal
yang berlayar masuk ke hulu sungai dan melakukan patroli di lajur-lajur pelayaran di sekitarnya. Apabila terjadi penyerbuan, maka mereka mengerahkan armada kapal mereka, menyerang
kapal-kapal musuh dan (atas perintah penguasa) seringkali mengganggu kapal-kapal yang dalam perjalanan menuju pelabuhan lain dengan tujuan untuk menghancurkan kegiatan perdagangan
musuh. Demikianlah, maka Orang Laut sebenarnya merupakan unsur kunci dalam ekonomi Jambi, dan berperan pokok dalam menopang keamanan. Sebagai imbalan, maka penguasa menganugerahkan para pemimpin Orang Laut berbagai gelar kehormatan dan juga sejumlah hadiah (termasuk wanita) serta mengizinkan mereka memiliki sebagian dari hasil rampasan yang mereka peroleh ketika melancarkan serangan tersebut. Ciri tradisional dari semua masyarakat Orang Laut adalah kesetiaan dari setiap anggota mereka kepada penguasa yang mereka layani.
Selama abad ke-enam belas, Jambi menjadi terkenal berkat lada yang ditanam di dataran tinggi,dan di tahun 1615 Kompeni Belanda dan Kompeni Inggris mendirikan pangkalan-pangkalan mereka masing-masing di kawasan tersebut. Pada masa itu, Jambi bersekutu dengan Johor, akan tetapi kemudian timbul sejumlah perselisihan ketika mereka berdua menyatakan berhak mengendalikan Tungkal, yaitu sebuah kawasan di perbatasan Jambi dengan Indragiri yang merupakan
jalan masuk ke kawasan pedalaman tempat lada ditanam. Antara 1671 dan 1674, perselisihan yang berkepanjangan itu memuncak menjadi sebuah konflik terbuka, Orang Laut yang tunduk pada penguasa Jambi merompak kapal-kapal di perairan Johor, sementara Orang Laut dari Johor melancarkan aksi serupa di Jambi. Armada Johor bahkan berlayar masuk ke Sungai Batang Hari dan mengancam ibu kota Jambi. Namun, hubungan mereka kemudian membaik dan di tahun 1681 para
penguasa Jambi dan Johor masih bersedia untuk membina suatu persekutuan guna menghadapi saingan bersama mereka yaitu Palembang. Orang Laut dari kedua kerajaan menyerang kapal-kapal
dagang di perairan Palembang dan juga menjarah kawasan pesisir.
Menjelang akhir abad ketujuh belas kesetiaan Orang Laut menghadapi ujian. Ekononi Jambi merosot tajam akibat jatuhnya harga lada dan keresahan semakin meluas sehingga di tahun 1687
Belanda mencomot serta membuang penguasa
dan melantik putranya, Kiai Gede, sebagai penguasa baru. Akan tetapi, sebagian Orang Laut menolak untuk mengalihkan kesetiaan mereka kepada
sultan baru yang tidak disenangi utamanya karena akibat ekonomi yang buruk, penguasa tidak dapat memberi mereka ganjaran seperti yang dilakukan
para penguasa sebelumnya. Beberapa di antara mereka bahkan meninggalkan Jambi dan menjadi kawula penguasa Indragiri. Sebagian lagi tetap tinggal di Jambi karena percaya bahwa Kiai Gede adalah raja yang sah dan seyogyanya mendapat kesetiaan mereka, kendati mereka maklum bahwa beliau memiliki sejumlah kekurangan.
Sementara itu Johor juga menghadapi sejumlah masalah. Di tahun 1699, ketika penguasa dibunuh oleh kelompok elit, sejumlah kelompok Orang Laut menolak untuk melayani sultan baru (yang merupakan pemimpin dalam komplotan pembunuhan sultan lama) dan memilih untuk menjadi kawula Sultan Palembang. Namun, banyak Orang Laut tetap setia pada dinasti baru karena mereka tetap dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan Johor yang rancak. Kesejahteraan tersebut berimbas bahwa semakin banyak kapal yang kemudian berkunjung ke ibukota Johor yang baru yang terletak di pulau Bintan (dekat Singapura masa kini) dengan akibat bahwa keuntungan yang selama itu mengalir ke Melaka yang berada di bawah kendali VOC terus menurun. Saudara laki-laki Sultan Melaka yaitu Raja Muda yang sangat berkuasa, juga memanfaatkan Orang Laut untuk memengaruhi para mualim kapal agar tidak memilih pelabuhan lain di Selat Melaka atau bahkan menghalangi mereka. Jurus-jurus siasat demikian melahirkan semangat permusuhan besar antara Johor dan Melaka yang dikuasai Belanda.Di bulan September 1714, konflik antara Johor dan Jambi kembali memuncak ketika Kiai Gede berusaha menghalangi kegiatan penyelundupan lada Jambi yang disalurkan dari dataran tinggi ke Johor melalui Sungai Tungkal; usaha tersebut dilakukannya karena penyelundupan itu memangkas tajam pendapatan yang sangat diperlukan itu.
Kendati para bangsawan istana tidak menyukai Kiai Gede, mereka dan juga residen Belanda (Isaac Panhuys) menjadi cemas ketika mendapat laporan-laporan tentang keberadaan sejumlah kapal Johor di hilir sungai. Tumenggung Mangkubumi, seorang tokoh bangsawan, Pangeran Nattadiningrat (menantu Kiai Gede) dan Residen kemudian mengirim lima kapal bersenjata ke hilir sungai untuk melakukan investigasi. Ternyata, kapal-kapal Johor itu sudah tiba di Sungai Batang Hari melalui Kuala Nior dan juga melewati sebuah sungai sempit yang dikenal dengan nama “celah nyamuk”. Orang-orang Johor itu membujuk Orang Laut Jambi supaya meninggalkan keluarga mereka dengan mengatakan bahwa hidup mereka akan menjadi lebih baik apabila menjadi kawula penguasa Johor. Ketika bujuk rayu mereka tidak membuahkan hasil, mereka membumihanguskan Simpang dan menangkap sejumlah Orang Laut. Mereka juga menyerang empat kapal Jawa dan membunuh sejumlah orang di kapal-kapal tersebut tindakan mereka itu dilakukan sebagai peringatan bahwa kapal-kapal dagang sebaiknya memilih Johor dan bukan Jambi.
Dokumen ini menggambarkan dengan jelas
tidak hanya peran penting yang dimainkan Orang Laut dalam persaingan ekonomi antara negara-negara Melayu, melainkan juga bahwa Orang Laut Johor, seperti penguasa mereka, merasa mampu menantang Melaka yang dikuasai Belanda, dan bahkan juga Batavia. Dalam kisah ini, ancaman penyerbuan Johor ke Jambi tidak menjadi kenyataan dan persaingan antara kedua kerajaan juga memudar sesudah Minangkabau menaklukkan Johor di tahun 1718 serta Kiai Gede meninggal di tahun 1719. Kendati Orang Laut tetap memiliki peran ekonomi penting selama abad kedelapan belas, hubungan mereka dengan para penguasa Johor dan Jambi memudar oleh karena peran mereka di bidang keamanan dan pertahanan diambil alih oleh para pendatang Bugis dan Makasar yang berdatangan dan menetap di kawasan Melayu.
Referensi
• Barbara Watson Andaya, To Live as Brothers. Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Hawaii: University of Hawaii Press, Honolulu, 1993.