Pembukaan Perkebunan Barat di Pesisir Timur

Pembukaan Perkebunan Barat di Pesisir Timur Laut mulai Tahun 1863 Ketika pemimpin Siak Tengku Ismail mengakui kekuasaan pemerintah kolonial tanggal 1 Februari 1858, ia bukan hanya melibatkan wilayahnya sendiri, tetapi juga hak yang dituntutnya atas kesultanan kesultanan dan sejumlah daerah yang dipimpin golongan bangsawan di Pesisir Timur sampai perbatasan Aceh. Pada kenyataannya, sejak bertahun-tahun wewenang Tengku Ismail sudah tidak diakui di kesultanan Langkat, Deli dan Serdang yang sejak tahun 1854 beralih kembali ke tangan Aceh Tahun 1862, Langkat kembali mendekati Siak dengan harapan bahwa dengan mengakui kewenangan Siak, Langkat akan memperoleh dukungan Belanda untuk melepaskan diri dari kewenangan Aceh. Atas permintaan Tengku Ismail, bulan Maret 1862 Pemerintah memutuskan mengirim residen Riau bernama Netscher, yang bertanggung jawab atas administrasi Siak, ke jajahan kesultanan tersebut untuk mengusir orang Aceh dan memperoleh pengakuan atas kekuasaan pemerintah kolonial dari pemimpin-pemimpinnya. Dua bulan kemudian, Netscher mengutus seorang pembesar Siak yg bernama Raja Burhanudin, ke Pesisir Timur untuk menyelidiki keadaan di daerah yang secara teoretis sudah tunduk kepada Siak. Bulan Agustus tahun itu, Netscher dengan didampingi sekelompok pemuka Siak’ mengunjungi setiap pemimpin daerah, dan dengan cepat ia memperoleh pengakuan Langkat, Deli dan Serdang atas kekuasaan pemerintah Belanda Begitu Netscher pergi, Aceh kembali ke Serdang untuk mencoba menyatakan kembali kekuasaannya. Sementara itu, di sebelah selatan kesultanan Asahan masih tetap tak mau tunduk kepada Belanda dan menolak menandatangani bentuk penyerahan apa pun. Baru setelah dilakukan intervensi besar-besaran (dengan 7 kapal dan 1400 tentara) bulan Agustus 1865. Belanda berhasil menundukkan Asahan sepenuhnya dan apat menyatakan menguasai seluruh pesisir antara Sungai Tamiang dan Sungai Barumun.

Dua tahun sebelumnya, Jacob Nienhuys, yang ditugaskan pedagang- pedagang Belanda untuk membeli perkebunan tembakau di Jawa, bertemu dengan peniaga Pangeran Saïd Abdullah Ibn Umar Bilsagih di Surabaya. Pangeran ini memamerkan kepada Nienhuys bahwa daerah Deli sangat cocok untuk budi daya tembakau. Akhirnya Nienhuys memutuskan untuk pergi ke sana dengannya. Setelah singgah di Riau dan bertemu dengan residen Netscher, Nienhuys tiba di Labuhandeli bulan Juli 1863, atau setahun sesudah kunjungan pertama Netscher. Meskipun kecewa melihat kecilnya produksi penduduk setempat, Nienhuys tetap memutuskan meminta izin kepada para direkturnya untuk membuka sebuah perkebunan tembakau eksperimental seluas 75 hektar di Deli. Izin diberikan, dan Nienhuys pun mendatangkan orang-orang Tionghoa dari Singapura untuk mengurus perkebunan, karena tak seorang pun penduduk setempat bersedia bekerja dengannya. Hasil panen pertamanya yang dikirim ke Belanda awal 1864 membuat para spesialis terkesan karena kualitasnya yang istimewa. Ia memperoleh lagi pinjaman dana sehingga dapat segera pergi mencari pekerja Tionghoa ke Singapura dan menandatangani konsesi lahan pertama dengan sultan Deli tahun 1865 Sejak tahun itu, dua pekebun Swiss dan seorang pekebun Prussia muncul di Deli. Mereka berusaha terutama dalam perkebunan tembakau pala, dan kelapa. Setelah mengadakan perjalanan singkat ke Belanda, Nienhuys kembali ke Deli tahun 1867 dan memperoleh konsesi baru yang terletak antara Sungai Percut dan Deli. Tahun 1868, di Deli sudah ada enam perkebunan besar yang menghasilkan lebih dari 200 ton tembakau. Didorong oleh hasil ini, tahun 1869 Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij yang terkenal bersama Janssen, Clemen, dan juga Nederlandsche Handel-Maatschappij Pada saat didirikan, perusahaan ini sudah memiliki 7.000 hektar lahan’ dan terutama bergerak dalam budi daya tembakau. Tahun berikutnya perusahaan ini mempekerjakan 1.200 kuli Tionghoa dari total 3.000 kuli yang bekerja di wilayah kesultanan Deli Kebutuhan akan tenaga kerja mempererat hubungan dengan Semenanjung Melayu, khususnya Pinang dan Singapura. Dalam karangannya, Brau de Saint Pol Lias menggambarkan dengan rinci tahap- tahap pembukaan sebuah perkebunan di kawasan tersebut pada masa itu. Proses dimulai dengan survei lahan bersama penduduk setempat yang membabat pepohonan memakai parang dan golok, khususnya agar pekebun dapat memilih lokasi rumahnya. Kemudian orang-orang Keling didatangkan dari Pinang untuk melakukan pekerjaan drainase. Dari Pinang juga didatangkan tukang kayu Tionghoa untuk membangun dua rumalh kayu: satu rumah besar untuk pekebun dan satu rumah lebih kecil untuk para penolong dan pegawai Eropa. Kemudian orang-orang Boyang yang direkrut di Singapura mendirikan bangunan-bangunan lain, gubuk jerami dan pondok. Sementara pembangunan berjalan, diadakan kesepakatan dengan penduduk setempat mengenai pembukaan hutan dan pasokan bahan-bahan bangunan, yaitu rotan dan atap untuk bangunan ringan. Selain itu, penduduk setempat dan orang-orang Banjar juga dipekerjakan membangun bangsal-bangsal untuk mengeringkan tembakau. Dua atau tiga bulan setelah pembukaan hutan yang biasanya berlangsung bulan September atau Oktober, kuli-kuli Tionghoa direkrut dari Pinang,Singapura atau Deli sendiri. Pada tahap inilah para pekebun mulai mengurus kebun mereka, Sampai tahun 1869, konsesi hanya diberikan untuk wilayah-wilayah yang berada di bawah wewenang langsung sultan. Akan tetapi, karena yakin bahwa tanah hutan di Pesisir Timur hanya dapat menghasilkan satu kali panen tembakau, maka para pekebun segera berusaha mencari lahan di luar wilayah itu’.

Perpindahan itu juga didorong oleh pembukaan Terusan Suez yang membawa semakin banyak pendatang tahun berikutnya sehingga perkebunan di kesultanan Langkat dan kesultanan Serdang semakin :2 berkembang, demikian juga di urung Hamperan Perak di Deli’ sebagaimana diharapkan Datuk Stia Raja sejak tahun 1869″.

Tak lama sesudahnya, diajukan permintaan pertama untuk memperoleh konsesi di urung Sunggal. Permintaan itu kemudian mengakibatkan peristiwa yang oleh Belanda disebut De Batak oorlog (Perang Batak), ketika wilayah itu sudah memiliki 22 perkebunan tembakau.

Siapa sesungguhnya Radja Boerhanoedin?

Itu pertanyaannya. Mari kita telusuri. Untuk sekadar navigasi bagi pembaca, sejumlah data dan informasi dalam menulis artikel ini sudah pernah dikutip di dalam berbagai artikel saya dalam blog ini, selain di laman Sejarah Kota Padang, juga di laman-laman lainnya, yakni: Sejarah Kota Medan, Sejarah Jakarta, Sejarah Bogor, Sejarah Bandung, Sejarah Depok, Sejarah Tapanoeli dan Sejarah Padang Sidempuan. Oleh karerna itu tidak semua sumber disebut lagi. Mari kita mulai dengan sub judul: Radja Boerhanoedin di Siak Indrapoera.

Nama Radja Boerhanoeddin kali pertama muncul tahun 1866. Radja Boerhanoeddin dengan Surat Keputusan Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, tanggal 10 Juli 1866, No. 9 diangkat sebagai pejabat pribumi yang diperbantukan kepada Assistent-resident di Siak Sri-Indrapoera (Java-bode: nieuws, handelsen advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-07-1866). Pengangkatan Radja Boerhanoeddin ini pada tahun 1866, sesungguhnya baru tiga tahun setelah ekspedisi Belanda ke Deli (Januari 1863). Ekspedisi ke Deli ini dipimpin oleh Resident Riaow yang berkedudukan di Tandjong Pinang, Elisa Netscher.

Radja Boerhanoedin bukanlah orang biasa. Radja Boerhanoedin adalah orang yang luar biasa dan karena itu Pemerintah Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) memberinya bintang. Jabatan prestisius yang pernah diduduki oleh Radja Boerhanoedin adalah Komandan di Onderdistrict Tanahabang, Batavia (Distrik dikepalai oleh Demang dan Onderdistrict oleh Komandan; pada tahun 1910 terminologi Demang diubah menjadi Wedana dan Komandan menjadi Asisten Wedana). Radja Boerhanoedin pada masa awal karir adalah orang yang piawai di medan perang, dan pada masa akhir karirnya memiliki anak dan cucu yang tidak kalah hebatnya. Radja Boerhanoedin meninggal dunia di Batavia dan dimakamkan di tempat pemakaman dimana kelak anaknya (Tengku Radja Sabaroedin) dan juga cucunya(Tengku Radja Boerhanoedin) dimakamkan di Petamboeran.
Ekspedisi ke Deli ini bertujuan ganda: di pihak Belanda untuk invasi (memperluas wilayah kolonial) di pantai timur Sumatra sekaligus untuk menekan Atjeh; di pihak pribumi di Siak Indrapoera untuk mengembalikan supremasi Riaow terhadap Deli (yang sudah beberapa lama di bawah kekuasaan Atjeh) dan sekaligus mengusir Atjeh dari Laboehan (Deli); dan menekan pemimpin Batak di dalam garis pantai (sepanjang sungai Deli). Indikasi ini dimuat dalam tulisan Netscher yang dimuat di surat kabar pada tahun 1875. Netscher sebagai Resident Riaow sejak 1861. Netscher memulai karis sebagai sekretaris Algemeene tahun 1848. Netscher melakukan ekspedisi ke Riaouw tahun 1847, 1856 dan 1857. Hasil ekspedisi ini ditulis dalam berbagai karya (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 03-04-1884). Pada tahun 1860 E, Netscher diangkat sebagai sekretaris Gubernur Jenderal dan juga merangkap sekretaris Raad van Ned. Indie (De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 16-07-1860). Elisa Netscher adalah saudara Resident Tapanoeli (1853-1856). Intensitas kunjungan Elisa Netscher ke Riaouw besar dugaan karena saran dari abangnya Franciscus Henricus Johannes (FHJ) Netscher (Resident Tapanoeli). Sebab saat itu Residentie Tapanoeli mencakup hilir sungai Baroemoen (Laboehan Batoe), yakni wilayah terjauh (ke timur dari Padang, kedudukan Gubernuri dan ke utara dari Batavia, kedudukan Gubernur Jenderal). Otoritas Belanda di Riaow dimulai tahun 1852 (Resolusi No 27 tanggal 29 Mei 1852) yang beribukota di Tandjong Pinang). Sedangkan penempatan controleur di Siak, Laboean Batoe, Panei, Batoe Bara dan Deli berdasarkan Beslit No. 8 tanggal 21 Februari 1965.Radja Boerhanoeddin ditempatkan ke Siak Indrapoera sehubungan dengan pembentukan pemerintahan di Siak Indrapoera.
Dalam ekspedisi ke Deli inilah Radja Boerhanoeddin ikut serta sebagai komandan pribumi dan setelah pulang kemudian diangkat sebagai pejabat di Siak Indrapoera. Radja Boerhanoeddin terbilang cukup berprestasi dalam ekspedisi Belanda ke Deli. Sebagai komandan perang (dari hulubalang pribumi) yang turun ke darat di Laboehan (Netscher sendiri hanya berada di atas kapal perang yang membuang sauh di hilir Laboehan (Deli),Radja Boerhanoeddin berhasil melucuti (senjata) hulu balang Atjeh dan juga berhasil bernegosiasi dengan empat pemimpin Batak untuk bertemu dengan Netscher di atas kapal. Hanya alasan inilah yang memungkinkan Radja Boerhanoeddin dianugerahi bintang medali perak untuk keberanian dan kesetiaan (de zilveren medaille voor moed en trouw). Bintang ini setara dengan Militaire Willemsorde 3de Klasse.

Pengangkatan dan penempatan raja Burhanuddin sebagai pejabat pribumi di Siak Indrapoera besar kemungkinan untuk mendampingi Asisten Residen yang baru merelokasi ibukota lama dari Bengkalis ke ibukota baru di Siak Indrapoera. Otoritas Belanda pertamakali didirikan di Bengkalis tahun 1858, suatu pulau yang menghadap ke muara sungai Siak. Pendirian otoritas ini sekaligus mengangkat sultan (di Siak Indrapoera) sebagai yang ditinggikan (diantara sultan-sultan) di pantai timur Sumatra. Sebagai pegawai di Tandjong Pinang Riaouw dan Bengkalis (hingga tahun 1862), Radja Boerhanoeddin besar kemungkinan memiliki hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Siak. Sementara itu, sangat jarang militer/pejabat Belanda merekrut penduduk untuk melakukan ekspedisi ke (negara/wilayah) tetangga kecuali hal khusus. Umumnya dari asal wilayah yang berjauhan, seperti Ambon ke Jawa dan Jawa/Madura ke Sumatra untuk menghindari pembelotan atau melarikan diri (Tidak ada indikasi Palembang ke Minangkabau, Minangkabau ke Tapanoeli dan Tapanoeli ke Atjeh. Namun karena adanya sejarah perseteruan Atjeh dan Siak (dalam soal Deli) perekrutan ini menjadi mungkin. Radja Boerhanoeddin seakan perwakilan Siak di dalam ekspedisi ke Deli. Siak dan Deli yang sesama Melayu terpisah karena faktor Atjeh. Dengan demikian perekrutan Radja Boerhanoeddin dalam kesatuan perang Belanda menuju ekspedisi Deli dilandasasi oleh keinginan mengembalikan supremasi Siak di Deli (atas Atjeh).Tentu saja tidak tertutup kemungkinan perekrutan justru dari Pantai Barat Sumatra mengingat Netscher (pemimpin ekspedisi ke Deli) adalah mantan pejabat tinggi provinsi Sumatra’s Westkust di Padang dan mantan Residen Tapanoeli di Sibolga. Peta 1862

Berdasarkan Staatsblad No.48 tanggal 27 Maret 1864 organisasi pemerintahan sipil di Siak terdiri dari Asisten Residen dan dua Controleur. Berdasarkan Almanak Pemerintah tahun 1867 ada tambahan controleur untuk Asahan, Deli, Batoebara, Laboehan Batoe, Siak. Sebagaimana diketahui Resident Riaou berkedudukan di Tandjong Pinang (Bintan). Residentie Riaou terdiri dari: Kepulauan Riaou dan Kesultanan Siak (pantai timur Sumatra). Dalam proses otorisasi Belanda di Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) diduga peran Radja Boerhanoeddin sangat penting. Elisa Netscher mendapat bintang Ridders dier orde (lihat De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 21-06-1864). Sedangkan Radja Boerhanoedin bintan Willemsorde 3.

Segera setelah penaklukan Deli, pada tahun yang sama pejabat setingkat controleur ditempatkan di Laboehan (Deli) yang bekerjasama dengan Sultan. Pada tahun 1865 controleur Deli, Baron de Caet digantikan oleh controleur C. de Haan. Pada masa de Haan datang Nienhuys dari Oost Java dengan dua investor dari Batavia untuk memulai merintis perkebunan tembakau di Deli. Pada akhir jabatan de Haan dilakukan ekspedisi ke Bataklanden (hingga ke pinggir danau Toba). Dalam perkembangan berikutnya Sultan Deli ditinggikan diantara sultan-sultan yang lainnya. Dua matahari di Pantai Timur Sumatra dalam fase berikutnya bersaing merebut hati Belanda (antara Sultan Siak dan Sultan Deli). Persaingan ini akhirnya mengakibatkan pada tahun 1870 Siak dipisah lalu Residentie Sumatra’s Oostkust dibentuk dengan ibukota di Bengkalis (pada tahun yang sama, 1870 ibukota Afdeeling Mandailing dan Angkola dipindahkan dari Panjaboengan ke Padang Sidempoean).

Prestasi Elisa Netscher di Pantai Timur Sumatra menjadi alasan utama Elisa Netscher dipromosikan menjadi Gubernur Pantai Barat Sumatra pada tahun 1870. Kedatangan Elisa Netscher ke Pantai Barat Sumatra seakan melanjutkan tugas yang pernah dijabat abangnya sebelumnya FHJ Netscher, sebagai Residen Tapanoeli tahun 1853 (Bredasche courant, 04-08-1853). FHJ Netscher mengakhiri tugasnya tahun 1956 (lihat Almanak 1857). Di satu pihak, ketika berakhirnya masa jabatan FHJ Netscher, sebaliknya, Elisa Netscher justru baru memulai tugas yang sesungguhnya di Riaouw.

Tugas Elisa Netscher ini ke Riaow awalnya dimulai tahun 1849. Saat itu Netscher sebagai ilmuwan di bidang linguistik yang mendalami bahasa Melayu. Pada kurun waktu yang sama (1851) N. Van der Tuuk dikirim ke Tapanoeli untuk studi bahasa Batak.Sebelum van der Tuuk sudah ada dua ilnuwan yang bertugas di Mandailing dan Angkola yakni geolog dan botanis FW Junghuhn dan ahli geografi sosial, FT Willer. Kedua ilmuwan ini juga difungsikan untuk pembentukan (otoritas) pemerintahan Belanda. Hasil ekspedisi pertama Netscher ini diduga kuat yang membuka jalan dalam pembentukan otoritas pemerintahan Belanda di Riaow (tahun 1852) yang berkedudukan di Tandjong Pinang. Elisa Netscher kemudian melakukan ekspedisi kedua ke Riaouw tahun 1856. Kemudian ekspedisi ketiga dilanjutkan pada tahun 1857 untuk melengkapi pemahaman keseluruhan di Pantai Timur Sumatra. Hasil-hasil ekspedisi ini ditulis Netscher dalam berbagai karya ilmiah yang kemudian juga menjadi sebab yang kuat pembentukan otoritas Belanda di Bengkalis tahun 1858. Dalam ekspedisi ke Pantai Timur Sumatra besar dugaan dipandu oleh Radja Boerhanoedin yang telah menjadi pegawai pemerintah di Batavia yang dimutasi ke Tandjong Pinang (Kantor Residen). Radja Boerhanoedin memiliki latar belakang pendidikan guru (kweekschool). Tingkat pemahaman Elisa Netscher yang komprehensif tentang Pantai Timur Sumatra mengantarkannnya diangkat sebagai Residen Riaouw yang berkedudukan di Tandjong Pinang pada tahun 1860. Tugas utama Elisa Netscher sebagai Residen Riaow adalah memperluas otoritas Belanda hingga ke arah utara (perbatasan Atjeh). Dalam perluasan wilayah otoritas itu (invasi ke Pantai Timur Sumatra bagian utara) Radja Boerhanoedin dilibatkan (sebagai opsir pemerintah).

Elisa Netscher berperan penting dalam persiapan invasi ke Atjeh. Radja Boerhanoedin dalam hal ini juga memainkan peran penting. Satu lagi tokoh penting dalam hal ini adalah WA Jellinghaus (pejabat eksekutif Menteri Koloni di Batavia). Saat itu Radja Boerhanoedin adalah komandan di Batavia. Besar dugaan Elisa Netscher yang mengusulkan Radja Boerhanoedin yang melakukan ekspedisi awal ke Atjeh. Elisa Netscher sangat kenal dengan Radja Boerhanoedin di Pantai Timur Sumatra.

Elisa Netscher menjadi Gubernur Pantai Barat Sumatra berakhir 1878. Abangnya FHJ meninggal dunia tahun 1878. Elisa Netscher lalu kemudian diangkat debagai anggota dewan (Raad van Ned. Indie). Elisa Netscher meninggal dunia tahun 1880 (lihat De standaard, 07-04-1880). Elisa Netscher masih tengah menjadi anggota Raad van Ned. Indie. Dua bersaudara yang berkontribusi untuk Sumatra tamat. WA Jellinghaus kemudian diangkat menjadi Residen Batavia. Lalu Radja Boerhanoedin diangkat kembali sebagai Komandan di Batavia.

Sepeninggal Elisa Netscher, boleh jadi Radja Boerhanoedin termasuk salah satu orang yang paham betul Pantai Timur Sumatra. Pada tahun 1879 ibukota Residentie Sumatra’s Oostkust dipindahkan ke Medan (Afdeeling Deli) dan afdeeling Bengkalis dikeluarkan dan kembali masuk ke Residentie Riaow. Pada sekitar tahun 1879 ini Radja Boerhanoedin diangkat menjadi Komisaris Jenderal Atjeh dan Deli.

Pada tahun yang sama, 1879 di Padang Sidempoean dibuka sekolah guru atau kweekschool. Sementara di Portibie yang telah berubah nama menjadi Padang Lawas dibentuk kembali pemerintah tahun 1879 yang sempat dibubarkan pada tahun 1843). Loehat yang pertama dibentuk di Padang Lawas sebanyak lima loehat, yakni: 1. Tanah Rambei en Oeloe Bila, 2. Dollok, 3. Padang Bolak, 4. Baroemoen, 5. Sosa (lihat De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 05-07-1880). Dengan demikian, afdeeling Mandailing dan Angkola, Afdeeling Padang Lawas dan Afdeeling Laboehan Batoe terintegrasi di bawah sistem pemerintahan otoritas Belanda. Untuk kali pertama coast-to-coast terjadi antara Pantai Barat Sumatra dan Pantai Timur Sumatra. Namun dalam proses pembentukan Pantai Timur Sumatra ini ada satu persoalan yang muncul. Laboehan Batoe yang sebelumnya menyusul Asahan menjadi bagian Pantai Timur Sumatra kemudian disusul Kota Pinang yang sebelumnya bagian dari Residentie Tapanoeli. Ada dua lanskap yang tersisa yaitu lanskap yang dulu ditemukan FJ Willer sebagai komunitas emigran (keturunan) Soetan Mengedar Alam. Akan tetapi Dr. Angan berhasil memfasilitasi sehingga dua lanskap itu akhirnya dimasukkan ke Laboehan Batoe. Radja Boerhanoedin dan Dr. Angan besar kemungkinan memainkan peran dalam penuntasan pembentukan pemerintahan Pantai Timur Sumatra ini.

Radja Boerhanoedin Menjadi Komandan di Batavia

Dalam perkembangannya kemudian Radja Boerhanoeddin dimutasi ke Batavia sebagai pejabat (ambtenaar). Keberadaan Radja Boerhanoeddin terindikasi dari surat seorang pembaca di Padang yang memiliki jabatan sebagai Commandant Batavia yang mengucapkan terimakasih kepada Radja Boerhanoeddin yang telah menolong keluarganya dalam peristiwa banjir besar di Batavia beberapa waktu sebelumnya. Pembaca menulis yang terkesan dari beberapa idiom yang digunakan diduga seorang asal Jawa, yang kini boleh jadi tengah berada atau bertugas di Padang (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 16-03-1872).

Ini mengindikasikan bahwa Radja Boerhanoeddin sudah di Batavia sebelum tahun 1872. Jabatan Radja Boerhanoeddin di Batavia sebagaimana terungkap dari surat pembaca adalah sebagai ambtenaar (pejabat sipil). Kantor Radja Boerhanoeddin di Batavia tidak diketahui dengan jelas. De standaard, 20-09-1872 menyebutkan jabatan Radja Boerhanoeddin sebagai kommandant van het 3de district.

Setelah Radja Boerhanoeddin di Batavia, kabar beritanya tidak terdeteksi lagi. Baru tahun 1883 nama Radja Boerhanoeddin muncul kembali ketika dirinya diangkat sebagai komandan distrik keempat dan kelima (commandant in het vierde en vijfde district) di Batavia (lihat De locomotief, 10-01-1883).

Mengapa nama Radja Boerhanoedin begitu lama tidak muncul (1872-1883)? Apakah Radja Boerhanoeddin dilibatkan dalam ekspedisi ke Atjeh? Perang Atjeh sendiri mencapai puncaknya dan hancurnya kraton dan masjid Atjeh pada tahun 1874. Dengan melihat prestasi Radja Boerhanoeddin sebagai pemegang medali perang dan memiliki kedekatan emosional di Pantai Timur Sumatra sebelah utara (Noord-Oostkust van Sumatra) besar kemungkinan Radja Boerhanoeddin berpartisipasi dalam Perang Atjeh. Oleh karenanya, sepulang dari Atjeh dan pada tahun 1883 Radja Boerhanoeddin diangkat sebagai komandan distrik keempat dan kelima di Batavia. Jabatan komandan ini berbau-bau militer (hanya pimpinan militer pribumi yang berhasil di medan perang yang kapabel dalam jabatan ini?

Secuil berita yang muncul tahun 1874, Radja Boerhanoeddin disebutkan sebagai Kepala Siak yang cerdik (een slim Siaksch Hoofd). Oleh karena itu, Radja Boerhanoeddin diajak kerjasama dan untuk menjaganya (memfasilitasinya) ditempatkan di Batavia sebagai komandan sebuah distrik pinggiran di Batavia, yang mana jabatan ini lebih merupakan sebuah gelar daripada sebuah kantor nyata. Radja Boerhanoeddin dianggap penting karena kedekatannya dengan Sultan Atjeh dan dapat dimanfaatkan. Diantara orang-orang non-Belanda yang terkait dengan Atjeh, Radja Boerhanoeddin terbilang paling sesuai (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 20-01-1874).
Pada fase pengangkatan Radja Boerhanoeddin menjadi komandan di Batavia menjadi heboh. Kehebohan ini bukan karena posisinya sebagai komandan (setingkat camat sekarang) di Batavia, tetapi latar belakangnya dari perspektif (sudut pandang) kolonial Belanda. Semua surat kabar di Hindia Belanda, di Belanda dan bahkan di Suriname melaporkan penempatan Radja Boerhanoeddin. Dari semua surat kabar itu tidak satupun yang menulis profilnya, hanya memberitakan keterkaitannya dengan Atjeh. Ini dapat dimaklumi karena peristiwa besar yang menyita perhatian di Hindia Belanda dan di Belanda adalah dalam perihal penaklukan (Kesultanan) Atjeh. Perang Atjeh adalah perang terbesar Belanda yang membutuhkan daya dan dana yang sangat besar. Sebagai perang besar, Perang Atjeh juga perang terakhir Belanda di Nederlandsch Indie. Untuk soal strategi penaklukan Atjeh, juga muncul pro-kontra tidak hanya dari orang Belanda juga dari orang pribumi, tidak hanya warga Belanda biasa tetapi juga (mantan) pejabat Belanda. Tentu saja Radja Boerhanoeddin tidak mengira begitu pada akhirnya (kraton dan masjid Atjeh hancur lebur). Namun ada satu surat kabar edisi 18 Maret 1874 yang menyusun profil Radja Boerhanoeddin secara lengkap (yang akan diuraikan lebih lanjut di bawah).
Pada bulan-bulan yang sama, pada saat guru Willem Iskander berangkat studi ke Belanda, Willem Iskander mengeluarkan pernyataan yang menyesali dan tidak adanya yang peduli dengan kehancuran kraton (dan masjid) Atjeh. Provinciale Noordbrabantsche en ‘s Hertogenbossche courant, 28-04-1874: ‘Dari Tuan Iskander, direktur sekolah bagi guru asli Mandheling di Sumatera, yang pada saat ini dengan tiga magang dalam perjalanan ke Belanda,….menerima hari ini penduduk surat dari kediaman, yang antara lain mencegah jatuhnya kraton dari Atchin telah membuat kesan yang baik di sini….menulis asli yang sama, bahwa tidak ada yang simpati sedikit pun untuk Atchin, dan bahwa ‘Atchinees’ bahkan digunakan sebagai istilah pelecehan’. Sebagaimana diketahui pada bulan April 1874 guru Willem Iskander bersama tiga guru muda yakni Barnas (dari Tapanoeli), Ardi Sasmita (dari Madjalengka) dan Raden Mas Surono (dari Soerakarta) betolak dari Tanjung Priok ke Negeri Belanda dengan kapal Prins van Oranje. Mereka tiba di bandar Amsterdam pada tanggal 30 Mei 1874.
Pada tahun 1878 Radja Boerhanoeddin (sebagai Komandan Distrik ketiga di Batavia) mutasi. Ini terlihat dari adanya pelelangan berbagai perabotan, peralatan dan perlengkapan yang dilakukan oleh Radja Boerhanoeddin sebagaimana diiklankan di surat kabar (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-02-1878).
Kepindahan Radja Boerhanoeddin dari Batavia diduga terkait dengan posisinya yang diangkat sebagai ‘Komisaris Jenderal’ Atjeh dan Deli. Jabatan baru ini diduga berkedudukan di Laboehan atau di Medan (ibukota Afdeeling Deli dipindahkan ke Medan dari Laboehan tahun 1879). Juga diketahui Radja Boerhanoeddin telah mendapat bintang medali Willemsorde (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-03-1882). Bintang ini besar kemungkinan diberikan kepada Radja Boerhanoeddin dalam partisipasinya pada sebelumnya dalam ekspedisi ke Deli yang kemudian ekspedisi ke Atjeh. Perang (Atjeh) terjadi tahun 1874.
Pada tahun 1881 terinformasikan bahwa Radja Boerhanoeddin telah menjual dua persil lahan di Blok-M (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-06-1881). Ini menunjukkan bahwa Radja Boerhanoeddin terbilang kaya di Batavia. Sumber pendapatan utamanya sejak menjadi Komandan Distrik paling tidak sebesar f150 per bulan (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-03-1882). Atas jasanya, pemerintah pernah memberikan Radja Boerhanoeddin bonus sebesar f2000..
Setelah sekian lama, Radja Boerhanoeddin kembali menduduki jenis jabatan yang dulu pernah dipegangnya, yakni kini diangkat sebagai komandan distrik keempat dan kelima (commandant in het vierde en vijfde district) di Batavia (lihat De locomotief, 10-01-1883). Jabatan ini tampaknya merupakan jabatan terakhir Radja Boerhanoeddin. Saat memulai menjabat ini muncul polemik karena banyak dan hampir seluruh bawahannya diganti dengan orang-orangnya. Lalu, nama Radja Boerhanoeddin mulai menghilang. Terakhir, Radja Boerhanoeddin terdeteksi pulang dari Medan yang teridentifikasi dalam manifes kapal (Bataviaasch nieuwsblad, 24-08-1896).
Radja Boerhanoeddin telah memainkan banyak peran dalam ekspedisi ke Deli dan juga dalam hal persiapan perang ke Atjeh (Perang Atjeh). Dengan latar belakang Radja Boerhanoedin sukses di Pantai Timur Sumatra, akhirnya mendapat medali ketika dirinya tahun 1871 menjadi Komandan di distrik Batavia (Tandjong Priok). Pejabat eksekutif Menteri Koloni WA Jellinghaus yang mengusulkan bintang diberikan kepada Radja Boerhanoedin. WA Jellinghaus diangkat menjadi Pejabat eksekutif Menteri Koloni 1 November 1871 (sebelumnya menjadi Residen Tegal 1865-1871). Jellinghaus menganggap itu pantas diberikan kepada Radja Boerhanoedin, tetapi dibalik itu Jellinghaus memroyeksikan Radja Boerhanoedin untuk tugas baru (yang lebih berat). WA Jellinghaus merekrut Radja Boerhanoedin untuk tugas ekspedisi ke Atjeh. Radja Boerhanoedin berangkat pada bulan Agustus 1872 dari Batavia menuju Tapak Toewan melalui Padang dan Singkel yang dibantu oleh Latib. Radja Boerhanoedin kembali ke Batavia bulan Oktober 1872. Ketika perang dimulai, pada bulan Januari 1873 Radja Boerhanoedin berangkat ke Tapak Toewan melalui Padang. Pemilik bintang Ridder der Orde v.d. Ned. Leeuw ini menjadi Residen Batavia pada April 1873. Setelah selesai bertugas di Pantai Timur Sumatra, tahun 1883 Radja Boerhanoedin (kembali) menjadi Komandan di Batavia yang mana bosnya sekarang adalah Residen WA Jellinghaus. Radja Boerhanoedin diberitakan surat kabar meninggal dunia di Batavia tanggal 25 September 1902. Penghargaan tertinggi Radja Boerhanoedin adalah menerima Ridderkruis der 4e klasse van de Militaire Willemsorde berdasarkan prestasinya pada ekspedisi kedua Atjeh.
Radja Sabaroedin, Anak Radja Boerhanoedin Ikut Ekspedisi ke Tamiang
Satu diantara anak Radja Boerhanoedin adalah (Tengku) Radja Sabaroedin. Pada tahun 1907, Radja Sabaroedin diangkat menjadi Komandan Pasar Senen yang sebelumnya menjabat sebagai Posthouder di Kepulauan Seribu (Bataviaasch nieuwsblad, 25-02-1907).
Komandan dalam hal ini, seperti ayah Radja Sabaroedin yakni Radja Boerhanoedin adalah jabatan setingkat camat pada masa ini. Pada saat itu, nama jabatan pemimpin pribumi belum seragam dan masih disesuaikan dengan penggunaan setempat. Di Residentie Padangsche dikenal sebagai Kepala Laras dan di Afdeeling Mandailing dan Angkola disebut Kepala Koeria. Di Batavia, setingkat Laras dan Koeria ini disebut Komandan (untuk pribumi dan Timur asing lainnya). Untuk orang-orang Tionghoa, secara khusus komunitas Tionghoa disebut Letnan, Kapten dan Mayor (tergantung besar kecilnya populasi komunitas). Pada tahun 1870an di Tandjong Balai, selain letnan Tionghoa juga ada letnan Mandailing. Oleh karena itu, pengertian komandan dalam struktur pemerintahan non-Belanda bukan diasosiasikan dengan (komandan garnisun) militer atau lainnya (meski para Komandan ada juga yang dari militer, seperti Radja Boerhanoedin).Komandan dalam hal ini adalah jabatan dalam struktur pemerintahan pada wilayah administrasi tertentu yang dijabat oleh pribumi.
Radja Sabaroedin adalah kerabat kesultanan yang terlibat mendukung militer Belanda. Radja Sabaroedin adalah pahlawan Belanda yang sukses berperang melawan penduduk Atjeh di Tamiang.