Home / Budaya / Riwayat Orkes Gambus Syech Albar, Ayah Ahmad Albar

Riwayat Orkes Gambus Syech Albar, Ayah Ahmad Albar


GAMBUS Diperkirakan gambus masuk ke Indonesia melalui imigran dari kawasan Hadramaut (Yaman). Syech Albar─dalam sumber-sumber lawas disebut Sech Albar─merupakan ayah kandung dari musisi rock dan pop, Ahmad Albar dikenal sebagai vokalis God Bless.
Namun, meski bertalian darah, warna musik Ahmad Albar dan ayahnya jauh berbeda. Syech Albar tenar pada 1930-an sebagai seorang musisi gambus. Meski, selama beberapa lama, Ahmad Albar juga pernah bernyanyi dangdut─genre musik yang menurut Weintraub terbangun dari gambus. Ingat lagu “Zakia”?

orkes gambus pimpinan Syech Albar. Alunan musiknya mendayu-dayu. Namun, tentu saja saya tak mengerti arti lirik lagunya. Sebab, dinyanyikan dalam bahasa Arab. Menurut Andrew N. Weintraub[1], musik Timur Tengah sangat punya peran pada orkes gambus. Orkes jenis ini menonjolkan alat musik petik berleher panjang tanpa papan nada (gambus) dan gendang dengan membran-ganda kecil.

Bermain Gambus dan Kasidah

Syech Albar lahir di Surabaya pada 1908. Ayahnya menyekolahkan Albar di Madrasah Al Chairijah di Surabaya, dan Madrasah Al Irsjad di Batavia. Namun, Albar tak menyukai pelajaran agama yang selalu diterimanya di sekolah tadi. Sepulang dari sekolah, ia kerap menyempatkan diri bermain gambus dan berkasidah. Ayahnya tak menyukai Albar memetik gambus dan menabuh rebana. Jika kedapatan sedang memetik gambus dan berkasidah, ayahnya geram. Tak segan, ayahnya akan membuang gambus yang dipetiknya. Oleh karena itu, Albar seringkali ngumpet-ngumpet untuk bisa menyalurkan hasrat seninya itu.

Suatu hari, ayahnya jatuh sakit. Lamat-lamat, ia mendengarkan suara orang bermain gambus dengan sangat merdu. Suara permainan gambus itu membuat ayahnya tenang. Setelah tahu yang bermain gambus itu adalah anaknya sendiri, maka Albar dizinkan bermain gambus dan berkasidah. Albar hanya bersekolah hingga kelas III. Pada 1921, ia mengunjungi tanah leluhurnya, Hadramaut di Yaman. Sebelum pulang ke Hindia Belanda pada 1926, Albar berkunjung ke Aden, Yaman. Ia belajar bermain gambus kepada Sayid Thaha bin Alwi Albar.

Ia menuntut ilmu selama tiga bulan. Setelah kembali ke Surabaya, ia belajar dengan seniman gambus Ahmad Faris. Lama kelamaan, keahlian Albar meningkat tajam. Menurut Denny Sakrie, Syech Albar memiliki orkes gambus bernama Al Wathon. Namun, pendapat ini berbeda dengan tulisan L.M. Isa di Pedoman Radio Gids. Isa menyebut, Al Wathon─dalam artikel Isa tertulis Al Wathan─merupakan nama orkes gambus di Batavia pimpinan Al Aidrus. Mungkin saja ada kemiripan nama. Akan tetapi, saya sendiri tak berhasil menemukan nama orkes gambus pimpinan Syech Albar ini. Menurut Andrew N. Weintraub, Syech Albar banyak menelurkan rekaman plat gramofon di Surabaya.

Rekaman plat gramofonnya pada 1937 diberi judul “Zahrotoel Hoesoen”, dengan keterangan “nyanyian Arab modern”. Lagu ini bernuansa Arab dengan gaya vokal suara rendah, diiringi pola irama rumba yang dimainkan dengan rebana, tamborin, dan ketik-ketik (clave) atau potongan kayu keras. Lagu ini juga diiringi dua gambus dan biola. Lagu tersebut direkam di label His Master’s Voice (HMV). Penulis artikel L.H. Isa menulis, Albar dapat kontrak pertama kali dengan HMV pada 1931. Selain di HMV, orkes gambus Syech Albar juga masuk dalam label Canary. Keterangan ini saya dapatkan dari disertasi Philip Bradford Yampolsky. Menurut Yampolsky, Canary adalah label petualang, yang tak hanya merekam keroncong dan tembang Sunda. Syech Albar, juga merekam suaranya di label ini. Weintraub mencatat, label Canary merekam orkes Syech Albar yang bernuansa Hindustan, berjudul “Janasib I & II” pada 1939.

Tersohor di Surabaya
Budayawan Betawi, Alwi Shahab menuturkan, orang-orang keturunan Arab terbiasa memainkan gambus di sela-sela waktu, terutama malam hari. Dalam perkembangannya, musik jenis ini diminati juga oleh masyarakat selain keturunan Arab. Maka, gambus menjadi musik pengiring pesta pernikahan. Gambus pernah menjadi musik paling populer hingga menjelang tahun 1950. Salah satu perintisnya Syech Albar. Corong radio zaman kolonial pun tak ketinggalan menyiarkan suara Syech Albar yang terdengar lembut dan merdu itu. Jika kita membuka majalah Soeara Nirom Soerabaia, niscaya nama Syech Albar ada di program siaran Nirom Surabaya. Orkes gambus pimpinan Syech Albar sangat digemari pada 1930-an. Saking digemarinya, Nirom Surabaya sampai-sampai terus mengundang orkes gambus ini dan bermain di studio mereka sebulan sekali
orkes gambus Syech Albar digemari hingga ke Semenanjung Melayu. Shahab pun menulis, orkesnya disukai di Timur Tengah. Judul-judul lagu yang dimainkan orkes gambus Syech Albar beragam.

Musik jenis ini, meski tak sesubur pertumbuhan keroncong, saat masa kolonial hingga beberapa dekade setelah kemerdekaan, mampu menjaring peminat, tak hanya di kalangan keturunan Arab saja. Pedoman Radio Gids mencatat, Albar pintar mengolah orkes gambusnya hingga terasa pas di telinga masyarakat umum segala kalangan. Majalah ini berpendapat, Albar adalah pelopor musik gambus di Hindia Belanda, yang bisa dinikmati semua golongan

About Administrator

Siakwarisanbudaya.com adalah sebuah website yang mengupas tentang sejarh Bumi Melayu Siak Sri Indrapura

Check Also

PERDAGANGAN KAYU PRA-MODERN DI SIAK

Timothy P.Barnard Terletak di daerah hutan hujan dan hutan mangrove yang tampaknya tak ada habisnya …