SEJARAH EKSPLOITASI MINYAK MINAS PADA TAHUN 1938-1963

Menjelang akhir abad ke 19 terdapat 18 prusahaan asing yang beroperasi di
Indonesia.Pada tahun 1902 didirikan perusahaan yang bernama Koninklijke Petroleum Maatschappij yang kemudian dengan Shell Transport Trading Company melebur menjadi satu bernama The Asiatic Petroleum Company atau Shell Petroleum Company.Pada tahun 1907 berdirilah Shell Group yang terdiri atas B.P.M.yaitu Bataafsche Petroleum Maatschappij dan Anglo Saxon. Pada waktu itu di Jawa timur juga terdapat suatu perusahaan yaitu Dordtsche Petroleum Maatschappij namun kemudian diambil alih oleh B.P.M (De Bataafsche Petroleum Maatschappij).
Jauh sebelum hari kemerdekaan itu Minas hanyalah berupa hutan belantara yang
belum digunakan secara maksimal untuk pertambangan dan tentu saja daerah itu belum di eksplorasi secara mendalam,hal ini tentu saja berbeda di tahun 1871 industri perminyakan di sektor hulu telah dimulai dengan adanya pemboran sumur minyak pertama di Indonesia, yakni pemboran sumur di desa Maja,Majalengka, Jawa Barat di lereng Gunung Ciremai,oleh pengusaha Belanda bernama Jan Reerink karena adanya rembesan dari lapisan tersier.Kemudian di tahun 1883,seorang Belanda bernama Aeilko Janszoon Zeijlker mencoba membor sumur di tengah perkebunan karet dan menemukan sumber minyak yang pertama di Indonesia yang relatif besar saat itu,yaitu
lapangan minyak Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan. Penemuan ini kemudian menjadi modal pertama suatu perusahaan minyak yang kini dikenal sebagai Shell.Pada waktu yang bersamaan,juga ditemukan lapangan minyak Ledok di Cepu (Jawa Tengah),Air Hitam di dekat Muara Enim (Sumatera Selatan), dan Riam Kiwa di daerah Sanga-Sanga (Kalimantan).Tahun 1930-an di Minas baru diadakan eksplorasi untuk pertambangan minyak hal ini mengindikasikan bahwa daerah Minas layak untuk dijadikan daera pertambangan
terutama minyak dengan tujuan untuk kebutuhan industri dan penggunaan bahan baku energi.Tahun 1936 Konsesi yang bernama “Kontrak 5A” untuk daerah di Sumatera Tengah diberikan kepada CALTEX. (termasuk lapangan MINAS) yang terjadi selama masa Hindia Belanda dapat dikatakan Minas di eksplorasi sekitar 1930-an dan masih berupa lapangan minyak belum sampai mengebor. Dalam Indische Mnijwet (1899) yang telah penulis katakan sebagai model pertama pada masa Hindia Belanda, berarti royalti kepada Pemerintah ditetapkan sebesar 4 persen dari produksi kotor dan kontraktor diwajibkan membayar pajak tanah untuk setiap hektar lahan konsesi.
Kontrak 5A disebut juga sebagai konsesi yang mengacu pada Indische Mijnwet
(Undang-undang pertambangan Hindia Belanda) tahun 1899 yang mengatur tentang pengusahaan pertambangan Indonesia,konsesi merupakan perjanjian yang dibuat oleh negara pemilik atau pemegang kuasa pertambangan dengan kontraktor untuk melakukan
eksplorasi dan jika berhasil produksi serta memasarkan hasilnya tanpa melibatkan negara pemberi konsesi dalam manajemen operasi.Sayangnya, sebelum sempat mengebor.Perang Dunia II pecah dengan diserangnya Pearl Harbour oleh Jepang pada tanggal 7 Desember 1941. Disusul dengan pendaratan tentara Jepang di Malaya,Filipina dan Indonesia. Tentara Jepang dengan cepat bergerak ke kawasan Asia Tenggara,pada saat Perang Dunia II semua kegiatan pengeboran minyak terhenti.
Karyawan-karyawan Caltex diperintahkan meninggalkan Minas,serta lapangan-
Iapangan minyak Duri dan Sebanga yang belum mulai berproduksi itu.Program
pengeboran minyak diteruskan oleh tentara Jepang pada bulan Desember 1944 dan membangun membangun kembali instalasi minyak menemukan MINAS.Tapi Minas seama masa pendudukan Jepang tidak banyak catatan tentang pengeboran minyak
tersebut mengingat hanya dalam waktu singkat yaitu tiga setenga tahun.
G.N de Laive,seorang sarjana Teknik Perminyakan yang ikut ditangkap oleh
Jepang,menceritakan kepada dua karyawan pengeboran bangsa Indonesia,Gedok dan
Saadi,bahwa tentara Jepang telah mengebor sumur Minas No 1 di tempat yang dipilih Caltex dengan menggunakan peralatan dan beberapa orang bekas karyawan Caltex,dan berhasil.
Jepang melakukan pengeboran di bawah pimpinan ahli geologi bernama Toru Oki dari Japan Petroleum Exploration Company (JAPEX)
yang mempelajari data tentang sumur minyak yang berada di Minas pada bulan september tahun 1944 yang
telah ditinggalkan oleh maskapai pertambangan minyak Hindia Belanda akibat Perang Dunia II mengenai pengeboran minyak selama penjajahan Jepang tidak terlalu banyak
dicatat mengingat waktu penjajahan yang singkat penjajah Jepang hanya melanjutkan pengeboran pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tapi Jepang dapat data mengenai Minas yang memiliki sumber minyak yang melimpah.
Gedok dan Saadi mengunjungi G.N de Laive di dalam camp tawanan perang di
sekitaran Pekanbaru. Pada akhir 1945, Richard H Hopper meminta bantuan orang
Jepang untuk mengambilkan contoh inti dan contoh minyak dari sumur Minas No 1
beserta catatan mengenai sumur serta hasil percobaan produksinya. Contoh inti dan minyak yang dikirim dan dipelajari di laboratorium. September tahun 1944, disebuah kamp terpencil di bagin Sumatera bagian tengah Toru Oki sedang membandingkan log untuk diuji di laboratorium sebagai studi eksplorasi minyak supaya dapat dipergunakan
Jepang dalam pertempuran untuk meredam perlawanan pejuang-pejuang Indonesia.
Pengeboran pada masa penjajahan Jepang saat itu hanya melanjutkan pengeboran
minyak pada masa penjajahan Belanda dan juga penanaman tanaman jarak dengan
tujuan untuk kepentingan akan kebutuhan energi bagi kepentingan perang Asia Timur Raya. Selain itu ditemukan ladang minyak di Minas pada tahun 1944 oleh Jepang karena wilayah tersebut sudah di rebut dan Jepang mempelajari data-data yang ditinggalkan oleh karywan-karyawan Caltex yang ditangkap dan terbukti memiliki potensi sebagai penghasil minyak terbesar di dunia setelah kemerdekaan Indonesia,
seluruh pertambangan minyak yang ada di Indonesia menjadi milik pemerintah
Indonesia tapi Agresi Militer Belanda.
Perang Dunia Kedua membawa bencana kepada industri perminyakan
Indonesia, sesudah invasi Jepang ditahun 1942.Politik “bumi hangus”dari pemerintah kolonial Belanda, dilaksanakan dengan cermat oleh kaum militer.Ini menyebabkan rusaknya lapangan-lapangan, pipa-pipa, alat-alat pompa dan kilang-kilang minyak dan
berhasil membatasi produksi untuk Jepang. Diperkirakan Jepang mengeruk 3.250.000 metric ton ditahun 1942, 6.500.000 ditahun 1943. 3 750.000 ton. Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 membawa angin perubahan,pejuang-pejuang Indonesia mulai melakukan pengambilalihan sumber-sumber minyak peninggalan Belanda.Dimulai
pada penyerahan lapangan minyak eks konsesi BPM di Pangkalan Brandan (Sumatra Utara)dari pihak Jepang kepada pihak Indonesia pada September 1945. Pemerintah RI kemudian membentuk Perusahaan Tambang Minyak Nasional Rakyat Indonesia (PTMNRI)untuk mengelola.Kemudian ladang-ladang minyak ex Stanvac di Talang Akar dan Stanvac juga diambil alih oleh pemerintah RI pada tahun 1946,yang segera
membentuk Perusahaan Minyak Republik Indonesia (PERMIRI).Karyawan minyak di
Cepu mengambil alih kilang dan sumur-sumur di Kawengan dari tangan Jepang,
kemudian mendirikan Perusahaan Tambang Minyak Negara (PTMN) pada tahun yang
sama.Kilang Wonokromo dan ladang minyak di sekitar Surabaya gagal direbut karena
keburu kedatangan pasukan Sekutu, yang diboncengi NICA(Nederlands Indies Civil
Administration)pada September 1945. Setelah kejadian pasca NICA(Nederlands Indies Civil Administration)setahun kemudian pada September 1946 utusan Caltex dapat berkunjung ke Pekanbaru termasuk Minas terutama Sumur Minas No 1, Sebanga dan Duri.
Peraturan pertambangan Hindia Belanda Indische Minjwet (1899),yang dibuat atas
desakan pihak swasta untuk terlibat di dalam pengusahaan minyak dan gas bumi di
Hindia Belanda. Adapun ketentuan konsesi migas (Kontrak 5A) antara lain :
 Kontraktor bertindak selaku operator sekaligus bertanggung jawab atas
manajemen operasi.
 Kepemilikan minyak dan gas bumi berada di tangan kontraktor.
 Kepemilikan aset berada di tangan kontraktor dengan batasan tertentu
 Negara mendapat pembagian pembayaran royalti dihitung dari tingkat produksi
tertentu
 Pajak penghasilan dikenakan kepada kontraktor dari keuntungan bersih
(pajak penghasilan dan pajak tanah) Sumber:https://joudane.wordpress.com/2009/09/25/kontrak-kerjasama-migas-di-
indonesia–sejarah-dan-perkembangan-1/

Perkembangan Minyak Minas pada Tahun 1938-1963
Perkembangan Minyak Minas dari mulai ditemukan hingga produksi hingga
sekarang telah melewati banyak proses yang terjadi dari masa penjajahan pemerintah Hindia Belanda hingga masa sekarang,tanpa adanya pertambangan minyak Minas,Riau daerah tersebut tidak akan berkembang hingga sekarang Perkembangan dan kemajuan
industri Migas di Indonesia khususnya di Minas seyogiyanya dapat meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat-banyak sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 33 UUD Tahun 1945.Harga bahan bakar minyak (BBM) dan harga gas (LPG) yang relatif murah merupakan salah satu bentuk nyata dari upaya Negara (pemerintah)untuk mensejahterakan rakyat sekarang Minas sudah mulai berkembang tidak seperti dulu dengan adanya bantuan dari perusahaan minyak disekitar daerah tersebut.Pertambangan minyak disekitar Minas tentunya juga harus melihat sisi
lingkungan yang dulunya daerah Minas masih berbentuk hutan yang masih berfungsi kini telah menjadi kering sehingga pertambangan harus memikirkan dampak lingkungan Di satu sisi, revisi tata ruang wilayah menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari tidak
hanya karena alasan perkembangan demografis tetapi juga tuntutan ruang untuk memfasilitasi perkembangan demografis baik untuk kebutuhan infrastruktur publik maupun sosial ekonomi.Namun demikian,revisi tata ruang identik dengan adanya potensi perubahan peruntukkan dan fungsi kawasan hutan Di satu sisi, revisi tata ruang
wilayah menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari tidak hanya karena alasan
perkembangan demografis tetapi juga tuntutan ruang untuk memfasilitasi perkembangan demografis baik untuk kebutuhan infrastruktur publik maupun sosial ekonomi, hal inilah yang menjadi perkembangan Minas menjadi pesat dibandingkan kecamatan lain
yang berada di Kabupaten Siak. Namun demikian, revisi tata ruang identik dengan adanya potensi perubahan peruntukkan dan fungsi kawasan hutan hal inilah selama perkembangan daerah Minas mulai menjadi kering dan suhu sekitar menjadi panas.
Bidang. pertambangan minyak pada tahun 1950 telah diselesaikan,
pengeboran 6 sumur pengembangan atau sumur produksi di Minas, yang di kemudian hari ternyata merupakan lapangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia;
bahkan merupakan salah satu lapangan minyak raksasa di dunia. Di bidang
pertambangan umum, dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 tentang nasionalisasi perusahaan pertambangan milik Belanda merupakan peristiwa penting bagi pembangunan pertambangan selanjutnya. Pada tahun 1959 semua perusahaan Belanda antara lain perusahaan tambang batubara, timah, emas, dan bauksit ditetapkan
pengelolaannya oleh Biro Urusan Perusahaan¬perusahaan Tambang Negara
(BUPTAN). Konsesi-konsesi pertambangan sejak perang kemerdekaan yang tidak
diusahakan lagi atau baru diusahakan dalam tahap permulaan dikenakan pembatalan hak-hak pertambangan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1959. Daerah-daerah bekas konsesi yang dibatalkan hanya dapat diusahakan oleh perusahaan negara atau perusahaan milik daerah Swatantra.