Taktik Belanda mengusir Portugis dari Malaka bagian I

Didalam tahun 1606 samangat Belanda memukul Portugis dari Malaka nampak semakin memuncak. Dilain pihak ia mamparhitungkan bahwa kekuatan Portugis di Malaka sudah banyak manyusut. Ia ingin mandapatkan Malaka itu sandiri untuknya Sesudah Malaka dapat dimilikinya mudahlah hagi Balanda untuk melemahkan kerajaan-kerajaan Melayu yang lain. Juga soal AcBh akan mudah pula dihadapi. Damikianlah terbayang idaman Belanda. Sebagai juga Portugis, Belandapun berpendapat bahwa partikaian Johor dan Aceh adalah manguntungkan orang ketiga, Salama mereka bartikai, psngaruh Belanda dapat dipupuk menjadi tambah basar. Tapi Belanda melihat bahwa saat itu (sabalum Portugis jatuh), belumlah waktunya melaga-laga Aceh dan Johor. Kekuatan mereka sangat diperlukan, Yang parlu hagi Balanda ialah mangajak kedua-duanya supaya mengeroyok Portugis. Jika Aceh disudut utara dan Johar disudut Selatan mengepung lalu lintas Portugis, Sedangkan Belanda ambil “dagingnya” (masuk manyarbu kadalam Malaka) itu akan merupakan suatu “keserasian” yang manguntungkan baginya. Dan “kebijaksanaan” inilah dijalankan Belanda dengan sangat Berhati-hati karana baik Aceh maupun Johar haruslah tidak oleh tahu rahasia dan impian Belanda untuk memiliki Malaka itu. . Armada Belanda yang pertama ditugaskan khusus melipat Portugis adalah dibawah pimpinan laksamananya Mateliaf. Ia masuk ke Johor. Katika itu ibukota berada di Batu Sawar, dan yang mBmarintah manjadi Sultan adalah Alau’ddin Ri’ayat Syah, anak Sultan Ali Jalla dari putri Pahang. la saorang yang tidak mengacuhkan pemerin-tahan, hanya suka bersanang-sanang saja. Valantijn mengatakan ia seorang paminum dan suka plesir. Urusan negara disarahkannya kepada adiknya sanak ibu, putra Sultan Muzaffar Syah, yang bernama Raja Abdullah. Dengan kecakapan Matelisf, dapatlah diajaknya Sultan Alau’ddin Johor mananda tangani suatu perjanjian parsahabatan, yang isinya mBngatakan bahwa Johor membantu Belanda  memukul Portugis Masa itu Johor labih marasakan kekuatiran kepada Acah dari pada kapada Portugis. Walaupun sabalum itu yang salalu mamukul ibukota Johor bukan Aceh, tetapi Portugis, namun Sultan Alau’ddin Johor telah maminta kapada Belanda supaya menolang Johar mamukul Acah barsama -sama . Dikatakannya Acah berbahaya sekali. Namun Belanda masa itu menentang keras. Terhadap Jahor, Mateliaf hanya bersedia manjanjikan: (a) menyampaikan jasa-jasa baik kepada Aceh, agar Jahor jangan diserangnya, (b) jika sampai tarjadi Aceh menyerang Johar, disitulah Balanda baru akan membantunya Kedua janji ini mambuk a kamungkinan untuk mangikat parjanjian itu. Tapi Sultan Alau’ddin masih balum tentaram. Ia maminta, supaya Mateliaf membuatkan benteng untuknya , tapi Mateliaf bilang tidak punya modal. 
Sebaliknya ia manganjurkan supaya bisa mendirikan sandiri banting Belanda di Johor. Inipun rupanya tidak diperkenankan olah Sultan. Belanda hanya barhasil mendirikan kantor dagang di Batu Sawar. 
Tanggal 18 Mei 1606 Balanda telah mancoba mandaratkan pasukannya ke Malaka. Blokade dilakukan dangan giat. Protugis mBngadakan perlawanan, tapi pendaratan masih dapat dipaksakan oleh Belanda diluar kita. Sebulan sesudah pengepungan, Belanda (MatBliaf) dan armadanya terpaks alari, pula berhubung dengan datangnya bala bantuan Portugis dari Goa (India) Serangan bsrikutnya tarhadap Malaka dilakukan olah Mataliaf harsama-sama dengan angkatan parang Johor, harlangsung dalam bulan Agustus 1606. Sakali ini Johar memberikan bantuan sapenuhnya. Portugis melawan dengan gigih. Akhirnya sarangan Mateliaf dan Johar dapat juga digagalkan aloh Portugis. Persekutuan Belanda/Jahor ini diikuti dari Aceh dengan rasa kuatir. Salah jika Belanda memberi bantuan kepada Johor niscaya Johar menjadi kuat. Tantu saja Acah menganggap bahwa persekutuan Belanda dengan Johar itu adalah bahaya baginya. Satelah tersusun menurut jangka waktu yang direncanakan, Sultan Acah lalu bersiap untuk melaksanakan program. Mulanya Acah mangkonsalidasi wilayah karajaan disepanjang pantai Timur Sumatera, memasukkan kembali wilayah-wilayah yang SeBIU terganggu oleh. Portugis dan Johor, seperti Aru (Deli), Batu Bara dan Seterusnya ka Timur, untuk mara ke Gasip (Siak), Indragiri, dan Jahor. Gerakan mara keSepanjang pantai Timur Sumatara talah diraalisir oleh Acah begitu pemerintahan dipegang Oleh Sultan Iskandar Muda, tentunya sesudah parsiapan sesempurna mungkin berhasil diselesaikan. Peraiapan itu memakan waktu bBrbulan-bulan, dan tentang ini dapat pula diingat suatu Cerita yang disalin dari bahasa Aceh olBh T.M. Sabil bBrjudul “SaBltan Aceh Marhoam” kaluaran Balai Pustaka. Walaupun carita itu berbentuk hikayat, dapat juga dibayangkan bagaimana basarnya kaberangkatan Iskandar Muda dengan rombangannya yang basar manuju Johor, membarangkatan tersabut didahului dengan kesibukan di Banda Acah untuk manyiapkan sajumlah basar kapal-kapal parang dan pengangkut. Dari hikayat itu juga dapat dimaklumi bahwa parajurit tambahan disinggahi dalam perjalanan, diantaranya Fedir, Meureudu, Samalanga, Pesangan, Lho’ Saumawa, Kuala pase dan Jambu Aye. Untuk keperluan ini Sultan dan rombongannya tidak manaiki kapal-kapal dari Aceh, tapi barjalan darat dulu, untuk singgah di Padir, dan kota-kota lain lagi, untuk tarakhir naik di Jamhu Ayer  Angkatan laut yang barangkat dari Banda Acah manyusur pantai akan singgah juga di kota-kota dimana Sultan ini Berhenti SeJak dari Fadir itu, Dari Maureudu Sultan membawa serta ulama dan guru parang bernama Teungku Ja Paksh. Kamudian dibawa juga Serta saorang hulubalang yang bernama Malem Dagang, Perjalanan di taruskan ke Asahan dan dari sana ke Jahor, demikian diringkaskan “Hikayat Soeltan Atjeh Marhaam”, Dalam tahun 1612 Acah telah merebut Aru pula, Mengenai penyerangan ini dapat diketahui sebabnya barpangkal pula kepada suatu pembalasan kaganasan tarhadap perbuatan Johor. Didalam tahun 1590, Raja Asyim, anak Sultan Johar Ali Jalla, dari Sultan Mansur Syah Aceh, telah terbunuh, Sultan Johor Ali Jalla menjadi marah dan manaruh dendam tarhadap Acah. Dalam tahun 1591. Ali Jalla mandapat kasempatan baik untuk menyerang Aceh di Aru, berhasil Aru dapat dirabut Johor. Damikianlah di tahun 1612 Acah dapat giliran lagi memulihkan kedaulatannya atas Aru (Deli). Sebagai talah diceritakan, Aru sudah pernah direbut oleh Aceh dari Jahor ditahun 1539. Di tahvm 1540 dirabut Johar pula dari Aceh. Ditahun 1564 direbut Aceh dari Johor, Ditahun 1568 Sultan Aru (Abdullah) yang turut mengambil bagian dalam penyarangan ke portugis telah tewas dalam pertempuran. Tahun 1579 anak Abdullah yang bernama Zainal Abidin telah naik takhta kesultanan Acah, manggantikan abangnya Sri Alam. Tahun itu juga ia terbunuh. Pengganti Zainal Abidin di Aru ialah Sultan Mansur ibnu Abdul Jalil. Mengenai penyerangan ditahun 1612 itu, tidak dapat diJelaskan apakah perebutan tarsebut telah terja dalam rangka mara ka Timur (Johar), ataukah tarjadinya dalam suatu penyerangan tersendiri, Catatan mara ke Johar (panyerangan tarhadap ibu kata Johar dan Bentengnya, Batu Sawar)yang lebih menonjol dan mendapat perhatian dalam kitab SeJarah Belanda dan Portugis, adalah pada tanggal 7 Mai 1613. MBlihat jauh jaraknya antara 1612 dan pertangahan Mai 1613 tidak mungkin panyarangan Aru berlangsung sekali jalan dangan ke Johar. Penyerangan ka Aru ditahun 1612 mungkin pula tidak dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda sendiri, Ketika membicaraka n bakas-bekas Aru, Schadee(179) mengatakan bahwa menurut yang didapatnya dari Cerita panduduk, nama Pulau Mesjid dikuala Besitang adalah karena disitu dulu pernah berdiri suatu Mesjid, zaman masih bardirinya kerajaan Aru. Dan sungai Sei Janda anak sungai Besitang adalah dinamakan dari si Janda Gidau, janda Sultan Aru yang tarakhir. Janda ini lari ke sungai itu ketika tantera Aceh menyarbu. PanyBrangan Aceh barakibat dangan larinya panduduk kapedalaman, meninggalkan tempat itu, yang akhirnya merupakan sarang bajak. Tantang kemungkinannya tentu tidaklah mustahil. Tapi Groenevaldt telah mancatat kasan “Hsin g Ch’a Shanglan” (1436) bahwa “Aru is situated opposite to the Sambilan-islands (on tha coast of perak) with a fair wind it taka three days and night to go thare from Malacca ” (Aru letaknya didBpan pulau-pulau Sembilan, depan pantai Perak. Dengan angin yang sederhana bisa tiba disitu dalam tempo 3 hari dari Malaka). Dilain bagian disabut sungainya labar, airnya jarnih. karenanya disebut pelaut-plaut “Laut Air Bersih
E Netschar residan Balanda (1886) dalam rapat BGKW 27—12—1886 mBnyinggung soal pata bumi yang pernah dibuat oleh Valantijn yang talah mencatat letak Aru itu diantara Tanah putih (Rokan) dengan batas Deli, dimana terdapat sungai Panai dan pulau-pulau Aru di dapannya, yaitu tampat yang dimaksud juga dalam panjalasan Grosnevaldt diatas. Tapi Netschar membantah, ia mengatakan bahwa itu tidak batul, Ia menunjuk kepada dijumpainya sebuah lila (meriam) tembaga yang pernah dihadiahkan oleh Sultan Mahmud Dali kepada Balanda dulu ditahun 1882 barsama-sama dengan 1 karis emas panjang dan 1 karis ama s pendek, Lila itu didapati di Deli Tua. Ada tulisan di lila itu dalam huruf Arab barbunyi: 
“Sana h 1104 Alamat Balun Haru” . Angka sanah tidak tarang, mungkin juga 1004, Juga maksud kata-kata tidak terang. Dangan adanya kata-kata Haru, labih bisa diparcayalah jika disabut bahwa karajaan Haru itu tidak lain yang barpusat di arU Tua. Sadangkan nama Aru di Besitang perlu diteliti lagi ada tidak ada kaitannya. Dengan menliti petunjuk tadi, dapat pula dikatakan dugaan bahwa Aru itu berwilayah luas, Sumatra Timur, Lebih-lebih pula kalau dihubungkan nama Aru (yang sahstulnya Haru) dBngan Kara. Dan kalau diingat ada marga Haro-Haro atau Kara-Kara di Asahan, masa si-Margolang, maka dakatnya bunyibunyi itu memugnungkinkan dekat parhubungannya Dapat dibayangkan suatu wilayah Aru yang luas. Seaudah penyerangan 1612, ada pula dalam catatan sajarah panyBrangan Acah ke Deli dalam tahun 1619.