Thomas Dias Perjalanan ke Sumatera Tengah pada tahun 1684

Tuan-Tuan Yang Mulia2
Sesudah Tuan-Tuan yang Mulia mengutus saya pada tanggal 28 Mei, maka 13 hari kemudian saya tiba di kapal dagang Orangie (yang membuang sauh di pelabuhan di sungai Siak) dua hari kemudian dari sana saya meneruskan perjalanan ke Patapan yang makan waktu 7 hari dan sesudah mengalami keterlambatan, tiba dengan selamat pada tanggal 20 bulan tersebut4, dan segera menyampaikan surat Tuan-Tuan yang dialamatkan kepada penguasa kota yang sesuai kebiasaan setempat dikelilingi banyak petinggi negeri dan sesudah bertukar salam hormat sesuai tata krama setempat beliau menanyakan keadaan Tuan gubernur yang kemudian
saya jawab bahwa ketika saya berangkat tuan gubernur berada dalam keadaan baik baik di Malacca beliau kemudian bertanya apakah tuan gubernur akan mengijinkan gontinghnya dikirim ke Aatchin, yang lalu saya jawab: menurut saya akan diijinkan apabila permintaan tersebut dituangkan dalam sebuah surat, dan beliau menyanggupi akan melakukannya. Sesudah tiga hari berada di sana, saya bermaksud akan menyampaikan surat-surat Tuan yang salah satu di antaranya lain ditujukan kepada Paduka Tuan yaitu residen Ajertiris  beliau ini mempunyai 10000 bawahan di kawasannya, di antaranya banyak saudagar, dan beberapa di antara mereka saya mohon untuk menjual bahan kain Kompeni yang saya bawa dan hal itu mereka lakukan selama dua bulan, dan beberapa di antara mereka yang kemudian masih datang ke kapal tidak dapat membeli apa-apa lagi.

Sekitar waktu itu kepada saya disampaikan sepucuk surat dari Sultan Siry Pada Moeda, Raja Pagar Ruyung yang dibawa oleh sembilan orang; dalam surat tersebut saya diminta untuk pergi ke Pagar Ruyung tempat beliau tinggal. Setelah yakin bahwa surat tersebut memang benar berasal dari Raja bersangkutan, saya putuskan
untuk memenuhi permintaan Raja tersebut karena berpikir bahwa di tempat itu ada banyak kepentingan Kompeni, kemudian dengan segera saya berhasil mendapatkan 20 penduduk Patapan yang bersedia mendampingi saya dalam perjalanan tersebut.
Kendati demikian perjalanan itu juga tidak tanpa halangan karena kami harus
melalui pegunungan di kawasan ini yang dikuasai para raja yang belum mengeta-
hui bahwa atasan mereka telah berkirim surat kepada Kompeni, sehingga mereka
mungkin menaruh curiga dan akan menghalangi perjalanan, sebab itu disepakati bahwa perjalanan tidak dilakukan melalui jalan yang sudah lazim dipergunakan
tetapi melalui hutan di mana para perampok dan binatang buas tidak akan berani menyerang mengingat rombongan kami berjumlah cukup besar.Dan agar tujuan perjalanan kami tercapai, diperlukan seorang pemandu yang berpengalaman dan saya perintahkan orang untuk mencarinya, dan sementara itu saya menyiapkan perbekalan yang diperlukan. Dan sesudah sekitar dua hari
menyiapkan perbekalan berlayarlah laksamana Louw di sungai Patapan dan diiringi bunyi terompet dia membuang sauh di depan tempat tinggal saya dan dia turun dari chialoup serta menghampiri saya di daratan. Dan sesudah saya ucapkan
selamat datang kepadanya saya bertanya alasan kedatangannya, dia pun menjawab diperintahkan untuk berkunjung serta mencari tau apa yang sedang berlaku. Saya minta perintah bersangkutan diperlihatkan dan kemudian laksamana itu memperlihatkan kepada saya sebuah surat tanpa nama atau pun tanda tangan, yang membuat saya mengatakan bahwa semua itu hanya alasan saja yang dia pakai untuk memamerkan kepongahannya yang sudah saya maklum ketika dia masih berada di hilir sungai.Oleh karena itu saya minta agar dia secepatnya kembali ke hilir sungai.Kendati demikian dia tetap tinggal di tempat selama dua hari, dan sementara saya mengurus segala yang diperlukan untuk perjalanan kami saya mendapatkan bahwa 20 orang yang sudah berjanji akan mendampingi saya, ternyata mereka mengingkari janji mereka. Dan keadaan ini disebabkan karena komandan Schriek, seperti dikatakan beberapa orang Manancaben, telah berucap: Apa yang akan
dilakukan Thomas Dias ketika menghadap Raja? Perdagangan itu sekarang tidak dapat dilanjutkan karena gubernur akan pergi ke Batavia dalam 14 hingga 15 hari mendatang. Kemudian saya menyebarkan berita ke 50 tempat untuk memanggil seorang petinggi Manancaben yang saya kenal yang kemudian datang menghadap
saya bersama 25 orang, dan dia bertanya apa yang saya kehendaki.

Saya mengatakan bahwa saya diutus oleh Tuan Cornelis Van Quaalbergen,
gubernur Malacca, untuk membaktikan jasa baik Kompeni kepada negaranya
yang luas serta untuk menjalin persahabatan, hubungan surat-menyurat dan juga hubungan dagang dan bahwa kini saya telah diundang oleh Raja Pagar Ruyung seperti yang tertera dalam suratnya, yang saya tunjukkan kepadanya, dan sesudah dia membaca surat itu, dia mengatakan siap mendampingi saya bersama anak
buahnya. Demikianlah maka perjalanan kita dapat dimulai; kami terdiri dari 37
orang, karena saya juga membawa serta sepuluh orang dari chialoup yaitu mereka yang tidak menolak untuk mempertaruhkan jiwa mereka bersama jiwa saya demi mengabdi pada Kompeni. Dan pada malam harinya kami tiba di Ajertiris di mana orang bertanya kepada kami ke mana tujuan perjalanan kami, dan kami jawab ke Pagger Odjom, tetapi mereka kemudian menjawab: Anda tidak boleh pergi ke sana dan belum pernah ada orang Nasrani pergi ke tempat itu, belum pernah kami
mendengar hal demikian. Jawaban mereka yang menggelikan serta penuh emosi itu nyaris membuat saya berkomentar, namun untuk menentramkan mereka saya
menjawab: Tidak, kami hanya akan pergi untuk dua hari, lalu kemudian akan kembali lagi. Karena kami khawatir bahwa ketidaktahuan dan emosi mereka yang kasar akan membuat mereka berlaku buruk terhadap kami.
Hari berikutnya, dari tempat itu kami melanjutkan perjalanan dan di malam
hari tiba di Belembij.11 Di tempat itu kami juga diterima dengan cara sama seperti di Ajertiris, dan kami juga menenangkan mereka dengan cara yang sama, dan dari sana kami melanjutkan perjalanan dan tiba kota Ridan,12 dan sesudah mendapatkan sambutan serupa dengan yang sebelumnya. Pada malam hari kami tiba di Cata Padan,13 dan ketika penduduknya mengetahui bahwa kami bermaksud pergi ke Pagar Ruyung, mereka menolak memberi kami tempat menginap sehingga kami terpaksa bermalam di bawah pohon sambil berjaga-jaga dengan senjata siap
di tangan. Dan keesokan hari kami melanjutkan perjalanan hingga menjumpai sebuah sungai yang harus kami sebrangi dengan berenang dan kemudian kami tiba di kota Pacu, dan penduduk kota itu juga bertanya ke mana kami hendak pergi, dan ketika kami jawab ke Pagar Ruyung, mereka menjawab bahwa kami tidak akan dapat mencapai tujuan kami hidup hidup. Ketika saya perhatikan semangat agresip mereka, saya katakan bahwa kami hanya perlu berjalan tidak jauh lagi dan bahwa keesokan harinya kami sudah akan kembali, dan jawaban saya itu memuaskan hati mereka dan mereka mengatakan tidak ada masalah.
Dari tempat itu kami mengubah rute perjalanan kami, dan kembali masuk ke
hutan dan melintasi pegunungan kendati pemandu kami memberikan berbagai keberatan selain bahaya dari para pembunuh dan binatang buas, yaitu bahwa pegunungan terjal, banyak rawa, semak berduri dan sebagainya.
Penjelasan pemandu kami membuat kecil hati para orang Manencaben yang
menyertai kami, dan saya menghimbau dan membesarkan hati mereka sehingga
mereka menerima himbauan kami. Dan sebelum para penduduk kota bangun dari tidur mereka, kami sudah berjalan, supaya penduduk kota tidak mengetahui arah yang kami tempuh, dan kami berjalan tujuh hari melalui hutan tanpa menjumpai satu gubuk pun. Pada akhir tujuh hari itu kami tiba di sebuah desa yang terdiri dari 3 hingga 4 rumah yang terletak agak tersembunyi. Dan kami bermalam dan beristirahat di rumah-rumah itu sehari penuh.Keesokan hari ketika fajar baru menyingsing, kami melanjutkan perjalanan menerabas hutan dan tiba pada sebuah gunung yang sangat tinggi yang menurut
orang setempat bernama Pima,dan sesudah berjalan berbaris selama sepuluh hari kami tiba di kota Nugam,yang terletak sekitar empat mil dari Pagger Oejem. Di tempat itu kami kembali beristirahat sesudah kami mengutus sembilan orang untuk memberi tahukan kedatangan kami, yaitu bahwa kami datang atas perintah Kompeni dan diutus oleh Tuan Cornelis van Quaalbergen, gubernur Malacca, serta untuk mendapat tahu apakah Raja Yang Mulia berkenan menerima kedatangan kami dan apakah kami diperbolehkan datang ke dalam kota dan berkunjung ke istananya.
Tak lama kemudian raja mengutus seorang Raja Malyo beserta 500 orang dengan membawa panji-panji kerajaan berwarna kuning dan mereka menyambut saya, dan atas nama Tuan serta Baginda Raja mengatakan bahwa baginda sangat gembira
atas kedatangan saya dengan selamat dan menyambut baik serta minta agar saya datang ke dalam kota. Tetapi saya dengan sopan menolaknya, sambil mengatakan bahwa tidaklah sopan, untuk menyampaikan pesan atau pun surat dari Yang Mulia
Tuan Gubernur kepada Baginda Raja di malam hari, dan apabila Baginda Raja hendak menunjukkan itikad baik serta persahabatan kepada Kompeni atau kepada gubernur Malacca, maka kiranya hal tersebut boleh dilakukan di pagi hari. Sesudah jawaban tersebut, Raja Malyo memerintahkan 400 pengawal beliau untuk menemani serta menjaga saya dan kemudian memerintahkan seluruh penduduk agar menyambut saya dengan segala hormat serta memberikan segala yang saya perlukan sesudah memerintahkan demikian beliau bersama seratus pengawalnya kembali ke Baginda Raja.
Ketika ke-esokan pagi, beliau kembali mengunjungi saya dengan tugas untuk
menerima surat dan hadiah-hadiah dari Kompeni dan tuan gubernur, saya kembali mohon beliau untuk memohon kepada Baginda Raja agar sudi kiranya membatalkan pertemuan kami hari itu dan mengijinkan untuk mengundurkannya hingga hari berikutnya karena sesudah beristirahat, kami kini mendapati bahwa kami
sangat kelelahan dan sebenarnyalah kami merasa betapa badan kami benar-benar kaku serta sakit. Sesudah mendengar jawaban saya, Raja Malyo kembali pergi ke Baginda Raja.Ke-esokan harinya, dua putra Raja, yaitu Pangeran bersama abangnya datang
kepada kami bersama 4000 pengawal yang membawa panji-panji dan berbagai
peralatan kerajaan serta sejumlah besar caitoquas, payung18 kerajaan yang berlapiskan warna ke-emasan serta sejumlah tanda kebesaran kerajaan seperti piring-piring emas yang diperuntukkan guna menerima surat-surat dan sejumlah piring
perak untuk menerima hadiah-hadiah kami. Pangeran menerima surat kami serta meletakkannya di atas piring emas yang dibawanya sendiri sementara para petingginya membawa hadiah-hadiah kami yang diletakkan di atas beberapa piring perak dan dengan diiringi serangkaian tembakan kehormatan mereka bersama saya berjalan ke istana. Kemudian pangeran membawa surat kami menghadap ke ayahanda beliau sementara saya tetap berdiam di bawah bersama para pembesar. Baginda
Raja memerintahkan surat dibacakan dan sesudah selesai Baginda memberikan kepada saya buah pinang yang diletakkan di sebuah piring perak besar sambil berkata kepada saya betapa saya mujur serta berhati besar untuk melakukan perjalanan yang jauh dan bersedia menanggung risiko menghadapi banyak bahaya dengan
menerabas hutan yang mampu saya lakukan tanpa halangan berarti dan beliau juga mengatakan belum pernah mendengar ada orang Nasrani yang melakukan perjalanan seperti itu. Beliau kemudian bertanya gerangan apa yang mendorong saya berbuat demikian. Saya jawab bahwa tiada alasan lain kecuali karena Yang Mulia Tuan Cornelis van Qualbergen, gubernur yang memerintah di Malacca serta atasan saya telah menugaskan saya untuk mencari tahu tentang keadaan Baginda Raja;
yang dijawab oleh Baginda betapa hal itu sangat berkenan di hatinya dan betapa
beliau merasa berkewajiban kepada tuan gubernur yang untuk selanjutnya akan diperlakukan sebagai seorang sahabat baik dan beliau berkenan memberikan jasa-jasa beliau kepada tuan gubernur.Kemudian Baginda Raja mengatakan betapa mukanya merah padam atas kelakuan Paducca Radja dan kemudian beliau memerintahkan Raja Malyo untuk menyiapkan sebuah hunian bagi saya beserta semua perlengkapan yang diperlukan serta segala yang saya inginkan, dan menyilahkan saya pergi bersama Raja, dan sesudah memberi salam hormat saya mohon diri dan kemudian saya dihantar ke tempat
hunian saya.Sesudah 2 atau 3 hari berlalu, saya berkunjung kepada beberapa penguasa dan mohon agar diperkenankan untuk dapat kembali menghadap Baginda Raja, dan
mereka menjawab bahwa permohonan saya itu tidak dapat dikabulkan karena
sudahlah cukup bahwa saya telah berbincang dengan Baginda yang sebenarnya merupakan suatu kehormatan sangat besar.
Sesudah kejadian tersebut, saya berkesimpulan bahwa penolakan mereka dida-sarkan pada kecurigaan atau itikad buruk para pembesar dan tidak karena diperintahkan atau pun dikehendaki demikian oleh Baginda Raja, sebab Baginda Raja pada
pertemuan kami yang pertama sangat ramah serta bercakap banyak; oleh karena itu saya menjawab dan berkata Saya diperkenankan dan sudah bercakap dengan raja besar Sultan Turki, tetapi mengapa saya tidak diperkenankan bercakap dengan Baginda Raja sementara Sultan Turki menurut Baginda Raja adalah saudara seper-
juangan beliau? Atas ucapan saya itu, para pembesar berdiam diri dan berusaha menyembunyikan maksud buruk mereka.Sementara itu saya berpikir apa yang sebaiknya akan saya lakukan dan karena saya tidak melihat ada langkah yang lebih baik kecuali melakukan sebuah tipu muslihat maka saya melakukan hal berikut yang Tuan-tuan Terhormat pada akhirnya juga akan mendapat tahu. Ketika berada di tempat itu saya sudah mengetahui bahwa ibunda Raja Malyo berada di dalam istana dan bahwa beliau terutama dapat leluasa bergerak di hadapan Ratu, maka saya kemudian berkunjung kepada ibunda dan mohon sudi kiranya beliau menyampaikan pesan kepada Ratu atas nama saya serta memberitahukan bahwa saya sudah datang dari jauh dan sudah menghadapi berbagai rintangan yang membahayakan, dan bahwa saya diutus oleh gubernur Malacca sebagai duta dan membawa surat Beliau dan saya sampaikan betapa saya ingin sekali lagi bertemu dengan Baginda Raja suami Beliau dan bahwa saya mendapat jawaban dari beberapa pembesar yang mengatakan bahwa keinginan saya untuk menghadap Raja tidak mungkin diluluskan, sehingga saya tidak hanya merasa heran tetapi juga merasa hal itu tidak mungkin dan sebab itu saya mohon dengan hormat kepada Ratu untuk mendapat kabar yang pasti agar seandainya hal tersebut memang tidak mungkin dilakukan maka saya dapat menentramkan hati saya. Hasil dari usaha saya itu sangat baik dan hampir tidak saya harapkan, kare-
na Ratu mengirim saya daun sirih dan beberapa buah pinang yang ditaruh di atas sebuah pinggan perak yang berlapiskan kain kuning, dan mengabarkan bahwa tiga
hari kemudian saya akan dipanggil menghadap Baginda Raja, sehingga saya menjadi teramat senang dan seandainya mungkin saya ingin agar waktu tiga hari itu sudah pun berlalu.Sesudah melewatkan tiga hari penantian sambil menyimpan keingginan besar dalam hati, maka Raja Malyo datang kepada saya bersama 12 pengiring yang mem-
bawa panji-panji kerajaan, dan memberitahu bahwa Baginda Raja telah memanggil saya dan dengan serta merta saya pergi bersama beliau ke istana dan ketika tiba di gerbang pertama, saya melihat 100 pengawal berjaga-jaga dengan senjata terhunus.
Di gerbang kedua saya nampak empat pengawal dan di gerbang ketiga hanya dua

Bersambung part II